Tips : Tahapan untuk Menjadi Trader Saham Sukses

Tips : Tahapan untuk Menjadi Trader Saham Sukses

sahamJakarta – Sahabat investors dan trader, banyak orang bertanya – tanya, “Sebenarnya berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk menjadi seorang investor saham atau trader saham yang dibilang berhasil?”
Nah, pada kesempatan kali ini, kami akan membahas dulu tentang bagaimana proses seseorang menjadi seorang trader saham yang berhasil.
Sebagaimana yang sahabat ketahui, aktivitas trading adalah aktivitas beli dan jual saham jangka pendek. Likuiditas dan mudahnya melakukan beli dan jual seringkali membuat trader menjadi merasa ‘harus’ untuk melakukan trading, meskipun tidak ada peluang.
Nah, sebenarnya apa yang dialami trader yang berhasil dan trader yang gagal? Artikel berikut ini saya tulis berdasar pengalaman saya pribadi juga pengalaman banyak teman-teman trader di sekitar kita. Simak yah.

1. Tahap Toddler (Tahap Coba-Coba)

Pada tahap awal, tahap Toddler seseorang mengenal dunia saham, yang dipikirkan adalah: saya ingin segera memulai! Saya ingin segera merasakan keuntungan.
Dengan minimnya pengetahuan dan strategi, trader baru melakukan transaksi beli dan jual dengan berdasarkan rekomendasi, rumor, saham yang ramai diperdagangkan, dan apa pun yang bisa ia beli.
Terkadang ia untung, terkadang ia rugi. Ketika untung maka rasanya akan sangat senaaang sekali, sehingga diulang lagi, diulang lagi, tidak bisa berhenti hingga pada satu titik, ia mengalami kerugian, dan merasa sangat kesal, sedih, terpuruk, marah, ingin balas dendam bahkan menyalahkan orang lain yang memberi rekomendasi misalnya broker atau pialang.
Pada tahap ini trader akan seperti seorang anak kecil usia toddler yang terus melakukan eksplorasi, belajar berjalan, dengan penuh semangat.
Tahapan ini akan membawa si trader pemula pada sebuah persimpangan jalan. Belok kiri artinya BERHENTI atau STOP dan kapok di dunia saham, menganggap bahwa semua ini adalah pengalaman buruk, menganggap saham adalah judi.
Belok kanan, pilihan kedua, artinya LANJUT dan naik pada level berikutnya pada tahap PENCARIAN JATI DIRI. Dulu, saya mengalami tahap pertama dan memutuskan untuk melakukan tahap berikutnya, pantang menyerah, masuk pada tahap pencarian jati diri.

2. Tahap Teenager (Pencarian Jati Diri)

Pada tahap Teenager ini, adalah tahap Pencarian Jati Diri, trader ‘teenager’ mulai sangat bersemangat, untuk membenahi diri, cari strategi yang terbaik untuk dirinya.
Semua pelatihan dan semua buku dibabat untuk mendapatkan strategi yang terbaik, yang terakurat, jurus manjur, membeli sistem trading dan robot untuk melakukan tradingnya dan mendapatkan keuntungan.
Semua strategi dan indikator dicoba, dan merasa lebih baik, karena mendapatkan perlengkapan ilmu. Si trader yang sedang mencari jati diri ini pun semakin bersemangat karena merasa sudah pintar sekarang.
Pada masa pembelajaran, biasanya yang paling diperhatikan adalah strategi-strategi teknisnya. Ilmu money management dan saran-saran psikologi trading hanya numpang lewat saja.
Berbagai forum trader diikuti dan berbagai ilmu diserap. Terkadang ilmu yang diserap pun tak selaras dengan ilmu yang dipelajari sebagai trader.
Ilmunya campur aduk, semua diserap. Semakin banyak ilmu, semakin merasa pintar. Sekali lagi, trader pada tahap ini merasa, “Sekarang saya sudah pintar!”, persis seperti anak remaja yang baru setengah mengenal dunia dan sudah merasa “Saya lebih pintar dari papa mama.”
Pada awalnya, biasa trader mendapatkan keuntungan demi keuntungan ketika mengikuti ilmu yang baru dipelajarinya. Namun, itu tidak bertahan lama.
Ternyata, meskipun sudah pintar, dan sempat untung beberapa kali, trader pada tahap ini pun mengalami hal yang sama ketika ia di level pertama, keuntungan dalam beberapa kali trading terhapus dalam sekali atau dua kali kerugian. Banyak yang mengaku “Harusnya saya sudah untung!! Tapi…”
Ya, benar sekali, harusnya sudah untung. Tapi yang terjadi malah sebaliknya, keuntungan berubah menjadi kerugian. Melakukan pembatasan risiko seperti ilmu yang dipelajarinya, menjadi sangat susah sekali.
Aturan kapan boleh beli, kapan mulai ambil untung, kapan membatasi resiko, dan berapa banyak boleh beli, dan kapan harus menunggu atau berhenti atau tidak trading, seringkali tidak bisa dijalankan dengan baik.
Di akhir level ini, trader Teenager akan kembali menemui persimpangan jalan, memilih untuk berhenti atau lanjut! Sebagian besar trader putus asa dan akan berhenti, menganggap semua yang sudah ia pelajari adalah omong kosong belaka.
Sisanya, lanjut pada level berikutnya. Saya pun pernah mengalami hal ini, dan saya memutuskan untuk lanjut ke level berikutnya.

3. Tahap Semi Adult (Menyadari Jati Diri)

Trader yang sampai pada tahap ini, mulai sadar bahwa yang salah sebenarnya bukan strateginya. Karena, ketika melakukan analisis, hasilnya banyak benar sesuai analisisnya. Namun yang seringkali terjadi adalah kurangnya SADIS yaitu SAbar dan DISiplin.
Pada tahap ini, trader mulai sadar bahwa, strategi yang ia gunakan seringkali terlalu banyak, dan tercampur aduk dengan strategi lain. Swing trader menggunakan strategi fundamental misalnya.
Ketika saya berada di level ini, saya mulai menyadari bahwa tujuan saya waktu itu berubah, bukan trading untuk mendapat keuntungan, tapi saya sudah terjebak dalam ‘trading for fun’.
Trader pada tahap ini mulai sadar bahwa, saya trading bukan karena ada peluang yang sesuai dengan trading rules saya, namun trading karena saya ingin trading. Pada level ini trader sangat sadar bahwa yang menjadi musuh terbesar, dan yang membuat tradingnya complicated adalah diri sendiri.
Pada tahap ini trader akan mulai merasakan bahwa sebenarnya dengan ilmu yang sederhana saja sudah bisa untung. Selesai dari tahap ini, trader mulai lagi lembaran barunya, dengan menghapus kenangan lama, dan mulai disiplin.
Namun ternyata tidak mudah, godaan pun terus datang. Trader pada level ini, yang kembali gagal, akan merasakan sangat lelah, dan sudah berhenti saja.
Sisanya lagi, akan melaju pada level berikutnya, trader ADULT.

4. Trader Adult (Dewasa)

Trader Dewasa mulai sadar bahwa saya tidak perlu setiap hari trading. Saya hanya perlu 1 atau 2 home run untuk berhasil. Pada tahap ini, trader akan lebih sering melakukan analisis dan pembelajaran, dibandingkan dengan aktivitas beli beli beli itu sendiri.
Pada tahap ini, trader Adult tahu benar apa yang dikatakan oleh ‘orang tua’ mereka ketika dulu masih menjadi trader tahap toddler.
Trader Dewasa tidak lagi berapi-api. Mengalami keuntungan ia tak lagi euphoria. Mengalami kerugian tak lagi membuatnya marah.
Ia melakukan pembatasan resiko dengan mudah dan ringan seperti halnya ketika ia melakukan profit taking. Ia sadar bahwa biaya trading adalah biaya operasional dari bisnis yang ia jalankan.
Seperti halnya orang yang bersikap dewasa dan tidak memaksakan kehendak diri seperti anak-anak. Ia sadar bahwa pergerakan pasar itu tidak bisa dipaksakan, kalau saya ingin untung sekian maka harus untung sekian.
Pada masa ini trader Dewasa mulai sadar bahwa ia harus memahami dan mengikuti pergerakan pasar, dan menggunakan strategi yang pas sesuai timing yang tepat. Ia akan sabar menunggu sampai ‘bola’ yang terbaik datang, baru ‘dipukul’.
Kini ia juga mengerti tentang apa yang seharusnya ia lakukan sebelum pertama membeli saham, yaitu memahami TUJUAN AWAL, yang seringkali diabaikan oleh kebanyakan orang.
Dengan memahami TUJUAN AWAL ini, akan mempermudah ia untuk mengambil keputusan apakah harus beli dan simpan, atau beli dan jual. Pun mempermudah untuk memilih strategi dan rentang waktu.
Trader Dewasa ini tidak lagi dikuasai oleh trading, namun ia menguasai aktivitas tradingnya. Ia tidak terpancang pada monitor atau layar trading yang harus setiap saat ia cek. Ia tau kapan saat yang terbaik untuk membeli dan menjual hanya berdasar grafik, bahkan jarang membuka running trade.
Demikian seterusnya, trader dewasa biasanya akan dicari trader pemula dan proses akan berulang lagi seterusnya dan seterusnya.
Semoga dengan membaca artikel ini, teman-teman trader yang baru dalam tahap awal dan tahap pencarian jati diri, tetap bersemangat dan sekali lagi. Percayalah, bukan strategi Anda yang kurang ampuh.
Namun justru yang harus dilakukan adalah ‘mengunci kamar’ seperti Jesse Livermore, terhadap semua ‘noise’, dan fokus pada apa yang sudah Anda pelajari pada umumnya, dan charting serta money management pada khususnya.
Every master were once a disaster. Semangat, dan salam profit!

 

sumber : keuangan.kontan.co.id