Tips : Kenali kondisi keuangan dari rasio keuangan

Tips : Kenali kondisi keuangan dari rasio keuangan

kauangan_lebaranJAKARTA. Anda ingin mencapai kebebasan finansial? Untuk itu, Anda perlu memeriksa kesehatan keuangan lebih dulu. Jadi, Anda bisa mengetahui di posisi mana kondisi keuangan Anda. Setelah Anda mengetahui ada di mana posisi keuangan Anda, atau istilah bekennya money mapping, Anda tinggal memperbaiki rasio yang masih buruk.

Untuk memeriksa kesehatan keuangan, Anda perlu menghitung semua aset dan kewajiban Anda, baik aset lancar dan tidak lancar serta utang jangka pendek dan jangka panjang. Setelah itu, Anda bisa menghitung apakah rasio-rasio keuangan Anda sudah mencapai level ideal.

Ada beberapa rasio keuangan yang bisa Anda jadikan patokan untuk menilai kondisi kesehatan keuangan Anda. Kelima rasio tersebut adalah rasio likuiditas, rasio tabungan, rasio utang terhadap aset, rasio kemampuan melunasi utang dan rasio solvabilitas.

Pertama, rasio likuiditas. Rasio ini mengindikasikan berapa lama Anda dapat bertahan hidup dan memenuhi kebutuhan jika tidak ada penghasilan sama sekali. Rasio ini diperoleh dari nilai kas dan setara kas dibagi pengeluaran bulanan. “Wajarnya seseorang memiliki kas sebesar 3-12 kali pengeluaran bulanan,” kata Pandji Harsanto, perencana keuangan independen.

Besaran nilai kas tersebut juga ditentukan berapa banyak orang yang keuangannya Anda tanggung. Bila Anda masih belum menikah dan tidak memiliki tanggungan, kas sebesar tiga kali penghasilan sudah cukup. Bila sudah berkeluarga, nilai kas yang ideal juga bakal bertambah.

Kedua, rasio tabungan. Rasio ini mengindikasikan persentase pendapatan kotor yang disisihkan untuk konsumsi di masa depan. Nilainya diperoleh dengan cara membagi nilai tabungan terhadap pendapatan kotor.

Idealnya, untuk Anda yang masih terhitung pemula dalam hal perencanaan keuangan, angka untuk rasio ini mencapai 10%. Jadi, nilai tabungan Anda minimal setara 10% dari pendapatan kotor.

Ketiga, rasio utang terhadap aset. Ini adalah rasio yang digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang membayar utang. Cara menghitungnya, total utang dibagi total aset. Ukuran idealnya, total utang Anda harus di bawah 50% dari total aset. Kalau total utang Anda sudah mencapai 50% dari total aset, Anda harus waspada dan segera mengurangi utang.

Keempat, rasio kemampuan melunasi utang. Rasio ini bisa dibagi lagi menjadi dua macam. Ada rasio kemampuan melunasi utang secara umum. Rasio ini digunakan untuk mengukur seberapa besar pendapatan digunakan untuk membayar utang.

Cara menghitungnya adalah total cicilan utang per bulan dibagi penghasilan. Angka wajarnya, total cicilan utang per bulan maksimal 30% dari penghasilan.

Lalu ada rasio kemampuan pelunasan utang non-hipotik. Rasio ini digunakan untuk mengukur kemampuan seseorang membayar utang konsumtif. Dihitung dengan cara membagi total utang non hipotik dengan penghasilan per bulan. Nilai wajarnya adalah maksimal 15% dari penghasilan.

Kelima, rasio kebangkrutan atawa rasio solvabilitas. Rasio ini menunjukkan persentase kemungkinan seseorang bangkrut. Dihitung dengan cara menjumlahkan seluruh kekayaan, dibagi dengan total aset, baik ekuitas maupun kewajiban.

Angka aman dari rasio solvabilitas ini adalah bila total kekayaan Anda minimal mencapai 35% dari total aset. Idealnya, total kekayaan mencapai 50% dari total aset.

Cobalah perhatikan rasio-rasio tersebut. Cek mana rasio yang sudah tercapai, mana yang belum. Dari situ, Anda bisa menentukan posisi kondisi keuangan Anda.

 

sumber : keuangan.kontan.co.id