Tantangan Harus Bisa Kami Taklukan – (Edisi 13 Tokoh Ternama di Industri Keuangan RI)

Tantangan Harus Bisa Kami Taklukan – (Edisi 13 Tokoh Ternama di Industri Keuangan RI)

Joko Suyanto

(Ketua Umum Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat sekaligus Direktur Utama PT. Sentra Modal Harmoni )

Meskipun semakin banyak bank umum yang masuk ke sektor pembiayaan mikro, Bank Perkreditan Rakyat (BPR) mampu membukukan kinerja yang moncer. Berdasarkan data dari perbarindo, baik aset, kredit maupun pengumpulan dana BPR mengalami pertumbuhan lebih dari 20% pada tahun 2012 kemarin. Melihat hal tersebut, BPR-BPR pun semakin semangat. tak heran jika ke depan, perbarindo menargetkan pencapaian yang lebih tinggi lagi.

Apa saja tantangan yang dihadapi dan cara yang dilakukan agar target tersebut bisa tercapai, Joko Suyanto, Ketua Umum Perbarindo menjelaskannya kepada wartawan GOLDBank, Arthur Gideon serta pewarta foto Abdul malik MSN di kantornya Jalan MT. Haryono, Jakarta, pada Jumat, 10 Januari 2013.

Berikut petikan wawancara dengan beliau :

Bagaimana Kinerja BPR pada 2012 Kemarin ?

sebagai awalan, populasi BPR ini mencapai 1.667 entitas dengan 4.384 jaringan baik kantor cabang, kantor kas maupun outlet dari ujung Aceh sampai Papua. Tetapi memang penyebarannya belum merata, sebagian besar atau mencapai 70% di Jawa dan Bali. Untuk kinerja, hampir semua pos tumbuh moderat. Menurut data per November 2013, aset BPR mencapai Rp. 65,5 Triliun, tumbuh 20,5 % dibanding periode yang sama tahun lalu. Sebagai lembaga intermediasi, kredit BPR mencapai 49,4 triliun, tumbuh 21,45% itu diberikan kepada 3,25 juta rekening. Jadi rata-rata pinjamannya Rp. 15,20 Juta per rekening. Artinya penyalurannya memang ke pengusaha mikro yang menurut ketentuan Bank Indonesia di bawah Rp. 50 juta.

Dari sisi pengumpulan Dana ?

Ada dua yaitu dari penyerapan dana masyarakat baik tabungan dan deposito selain itu juga dari pinjaman dari pihak lain atau linkage. Untuk tabungan mencapai Rp 13,8 triliun, tumbuh 20,6%. Untuk deposito mencapai Rp 29,9 triliun, tumbuh 48%. jadi total sumber dana total Rp 53,1 triliun, tumbuh 21,6%. jadi equal dengan pertumbuhan kredit. jadi kesimpulannya ada tiga. Pertama pertumbuhan BPR cukup moderat, fungsi intermediasi berjalan bagus serta benar-benar menrupakan pendamping pengusaha mikro dan kecil yang ada di daerah.

Jika melihat indikator-indikator tersebut, maka bisa dibilang BPR tidak terkena dampak krisis global di tahun kemarin ?

jika melihat bisnis usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM), sebenarnya terkena tetapi tidak berpengaruh secara signifikan. Lihat saja saat krisis 1997, lalu krisis 2008, sekarang krisis 2010. sudah terbukti UMKM tahan terhadap goncangan.

Melihat pertumbuhannya, tahun kemarin cukup menarik. Apakah untuk tahun ini masih akan seperti itu ?

kami tetap optimis. Kami proyeksikan angkanya lebih tinggi. Bisa mencapai 23% dasarnya, BPR pengelolaanya semakin efisien. Di sisi lain saat ini masyarakat sudah melihat bahwa bertransaksi di BPR sudah menarik karena kesederhanaanya, kedekatan dan personal approach-nya.

Dalam Bankers Dinner kemarin BI mengungkapkan akan mewajibkan bank umum mempunyai portofolio kredit UMKM minimal 20%. Apakah ini menjadi tantangan BPR ?

Kami memang optimis, tetapi kami tidak memungkiri bahwa banyak tantangan menghadang. Contoh gampangnya adalah persaingan. Saat ini persaingan tidak antar BPR saja tetapi juga lembaga-lembaga keuangan lainnya yang memberikan pembiayaan ke UMKM.

Nah, apakah itu membuat target sulit tercapai ?

saya melihat ada dua sisi. Positifnya kalau regulasi akan mengatur portofolio itu wajib 20% ke UMKM produktif itu maka kami inginnya 20% tersebut memperhitungkan linkage. Sisi positifnya kemitraan BPR dengan bank umum semakin mesra. Jadi nanti ada sinergi antara yang besar dengan yang kecil untuk memberikan pelayanan kepada masyarakat UMKM.

Sisi lainnya ?

Kami tidak menutup mana, kan ada bank umum yang direct ke mikro. Tetapi hak tersebut kami jadikan tantangan yang membangun. Jadi BPR sendiri harus meningkatkan daya saing.

Cara peningkatan daya saing tersebut ?

Nah, daya saing itu bisa diperoleh kalau BPR melakukan operasional dengan efisien. Seperti sumber daya manusia semakin produktif, kemudian tata kelola perusahaan harus bagus, selain itu produk-produk yang ditawarkan ke masyarakat harus sesuai dengan kebutuhan masyarakat lokal setempat. Jadi tantangan tersebut harus kami taklukan.

Adanya bank yang direct langsung ke UMKM itu berpengaruh ke kinerja BPR atau tidak ?

sudah jelas kan kami pertumbuhannya moderat, kalau berpengaruh kan seharusnya kinerjanya berbanding tidak lurus. Tapi memang hal tersebut harus diantisipasi terutama dengan regulasi. Seharusnya mendorong sinergi antara bank umu dengan BPR.

selama ini bagaimana ?

sudah, peluncuran Apex Bank atau lembaga pengayom bagi BPR pun dari otoritas yaitu Bank Indonesia.

Apex Bank kan sebenarnya sudah dicetuskan lama, tetapi sejauh ini baru teralisasikan beberapa saja. Apa kesulitan atau kendalanya ?

sebenarnya begini, Apex ini mengkawinkan antara bank umum menjalankan fungsi-fungsi sebagai lembaga pengayom. Nah, jadi bukan kendala tetapi kami sebut sebagai tantangan, yaitu menyatukan persepsi. Itu yang sedang kami lakukan yaitu menyatukan persepsi. Kami mengkampanyekan kalau menjadi Apex Bank, bank umum juga untung karena tidak perlu direct ke UMKM tetapi bisa melalui BPR sehingga risikonya ada di BPR. Saat ini sudah banyak. Ada di Jawa Timur, Jawa Tengah, Riau, Bali dan Kalimantan. Kami berharap setiap provinsi ada Apex Bank.

Di 2013 ini apakah jumlah Apex Bank akan terus bertambah ?

Saya optimis bisa terus bertambah. Apalagi dengan regulasi yang 20% itu diharapkan bisa mendorong. BPR sangat membutuhkan bank pengayom ini terutama untuk mengelola likuiditas dan modal kerja.

Untuk bunga kredit, ada tidak usaha untuk menekan semakin rendahnya bunga kredit sehingga semakin banyak UMKM yang mendapat kredit ?

Jika berbicara pricing harus dilihat secara menyeluruh atau harus melihat struktur pendanaanya. Jika melihat sumber dana di BPR itu kan sebagaian besar adalah deposito dan linkage. Nah, tabungan itu bunganya rata-rata 5%, deposito 8,5% dan linkage itu 10%-14%. Hal tersebut menunjukkan biaya dana BPR cukup mahal. Itu dari sisi cost of fund, dari sisi operational cost  itu sekitar 10%. Selain itu ada premi risiko sekitar 2% dan  Net interest Margin (NIM) . Jadi ada beberapa hal. Dari sisi biaya dana harus diturunkan, dari sisi operational cost juga harus diturunkan dan lainnya.

Bisa tidak ?

Bisa. Kami akan menaikkan dana di tabungan, menurunkan biaya operasional dan mengurangi risiko agar premi bisa turun, Langkahnya yang harus dilakukan BPR harus efisiensi dan efektif.

Caranya ?

Basisnya harus teknologi. BPR harus merubah diri dengan teknologi tersebut. Contohnya dengan Automated Teller Machine (ATM). Supaya tidak terlihat terlalu banyak biaya investasi maka harus bekerja sama atau co-branding  dengan bank lain. Apex Bank itu juga nantinya bisa diajak kerjasama untuk co-branding. Selain itu Perbarindo bekerja sama atau bersatu dan membuat produk-produk bersama. itu sudah dilakukan, contohnya di jakarta dan sekitarnya serta di Yogyakarta. Ada produk tabungan bersama yang berhadiah mobil.

 

sumber : Majalah GOLDBank, No. 10/II, Edisi 15 Januari – 14 Februari 2013, hal 49 – 51