Tantangan berat perbankan di 2014

Tantangan berat perbankan di 2014

bankJAKARTA. Pelambatan ekonomi masih akan membayangi kinerja industri perbankan tahun depan. Pertumbuhan industri perbankan di tahun 2014 diperkirakan semakin lambat. Tahun depan, tantangan industri perbankan kian berat lantaran likuiditas semakin ketat, sementara risiko kredit bermasalah meningkat.

Bank Indonesia (BI) memperkirakan, pertumbuhan kredit perbankan tahun depan hanya di kisaran 15,3%-16,6%. Angka ini jauh di bawah perkiraan pertumbuhan kredit tahun 2013 di kisaran 20,8%.

Gubernur BI, Agus Martowardojo, mengatakan upaya stabilisasi ekonomi yang diperkirakan masih akan berlangsung hingga 2014 menjadi alasan penurunan angka pertumbuhan kredit perbankan. Pelambatan pertumbuhan penyaluran kredit juga dipicu kenaikan suku bunga perbankan.

Alih-alih agresif, bank akan bersikap konservatif. Sebagian besar bank memilih mengerem laju pertumbuhan kredit dan memasang target pertumbuhan sesuai proyeksi BI.

Pahala N. Mansuri, Direktur Keuangan Bank Mandiri, mengatakan rata-rata pertumbuhan kredit tiga tahun terakhir mencapai 24%. Tahun 2014, sudah saatnya pertumbuhan kredit melambat di kisaran 15%-17%. Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA), Jahja Setiaatmadja, mengatakan kredit sektor konsumer seperti kredit properti dan kredit kendaraan bermotor pada tahun depan akan tersendat akibat kebijakan pengetatan loan to value (LTV) yang dirilis BI.

Selain kredit melambat, bank juga menghadapi dua tantangan besar pada tahun depan. Direktur Bank Jabar Banten, Bien Subiantoro, mengatakan likuiditas yang semakin ketat menjadi tantangan utama perbankan di tahun depan. Banyak dana nasabah institusi keluar dari sistem perbankan lantaran dialihkan untuk membeli surat utang negara (SUN) demi mendongkrak yield. Alhasil, likuiditas semakin seret dan persaingan memperebutkan dana pihak ketiga (DPK) makin ketat.

Thila Nadason, Pjs Presiden Direktur Bank Internasional Indonesia (BII), mengatakan likuiditas pada tahun depan semakin ketat lantaran langkah The Federal Reserve melakukan tapering off. Alhasil, likuiditas akan kembali lari ke luar negeri.

Menurut Pahala, pengetatan likuiditas sudah terlihat dari pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang melambat dua tahun terakhir. Sebagai gambaran, tahun 2011, penghimpunan DPK industri perbankan masih tumbuh 19%. Tahun lalu DPK cuma naik 15%. Risiko kekeringan likuiditas makin meningkat sejak BI mengerek bunga acuan (BI rate) Juni 2013 lalu.

Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) memperkirakan, pertumbuhan DPK tahun depan hanya naik 14,1%. “Bank kecil paling terpukul efek kekeringan likuiditas,” kata Doddy Ariefianto, Head of Economic and Banking System Risk Division LPS.

Risiko NPL meningkat

Karena itu, perang suku bunga simpanan masih akan berlangsung hingga tahun depan. Bank akan berlomba menawarkan suku bunga deposito setinggi-tingginya untuk menggaet dana nasabah. Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Bidang Pengawas Perbankan, Nelson Tampubolon, mengakui likuiditas perbankan menjadi persoalan potensial tahun depan. Ia khawatir, saat kondisi ekonomi makro memburuk, bank saling menahan diri memberikan pinjaman di pasar uang antarbank (PUAB).

Untuk mengantisipasi, BI meminta perbankan aktif bertransaksi di pasar keuangan selain PUAB. BI juga menginisiasi mini master repurchase agreement (MRA) yang melibatkan delapan bank. Proyek tersebut diharapkan memicu peningkatan transaksi repo antarbank sehingga likuiditas perbankan lebih longgar. Meski begitu, bankir harus menyiapkan strategi alternatif, seperti penerbitan obligasi untuk menjaga likuiditas di 2014.

Tantangan kedua yang tak kalah berat adalah risiko kenaikan kredit bermasalah alias non-performing loan (NPL) akibat kenaikan suku bunga kredit dan penurunan dana beli masyarakat. BI memperkirakan, NPL tahun depan bisa mencapai 2,8%-3,1%. Per Oktober 2013, NPL perbankan masih di level 1,9%. Mirza Adityaswara, Deputi Gubernur Senior BI, meminta perbankan meningkatkan biaya pencadangan alias provisi, mengantisipasi dampak kenaikan kredit bermasalah. Bank juga harus meningkatkan rasio kecukupan modal atau capital adequacy ratio (CAR) untuk memperkuat ketahanan permodalan saat ekonomi melemah.

Achmad Baequni, Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI), mengakui ada potensi kenaikan NPL tahun depan meski tidak besar. BRI telah mengantisipasi dengan selektif menyalurkan kredit. “Bank harus mempelajari profil nasabah dan usaha mereka serta mengelola penyaluran kredit untuk mengendalikan NPL,” kata Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur Bank OCBC NISP. Jadi, tahun depan bankir mesti lebih berhati-hati.

 

sumber : keuangan.kontan.co.id