Tahun Ini Dolar AS Dipatok Rp 10.200, Tahun Depan Rp 10.500

Tahun Ini Dolar AS Dipatok Rp 10.200, Tahun Depan Rp 10.500

Jakarta – Pemerintah menetapkan asumsi rata-rata nilai tukar rupiah terhadap dolar AS di tahun ini adalah Rp 10.200/US$, sementara tahun depan Rp 10.500/US$. Ini digunakan untuk perhitungan APBN.

Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Bambang Brodjonegoro mengatakan, asumsi nilai tukar yang menyatakan dolar masih di atas Rp 10.000 adalah terkait dengan ketidakpastian ekonomi global. Terutama soal rencana penarikan stimulus oleh Bank Sentral AS yaitu Federal Reserve (The Fed).

“Kondisi ini akan terus menjadi pertanyaan bagi semua negara, karena tidak bisa dihindari quantitative easing (kebijakan The Fed) dicabut tergantung seberapa besar. Indonesia yang terkait sistem keuangan global harus bisa adaptasi,” ujar Bambang saat rapat dengan Badan Anggaran di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (23/9/2013).

Kondisi ketidakpastian global, menurut Bambang juga mempengaruhi pertumbuhan ekonomi domestik yang diperkirakan tahun ini hanya mencapai 5,9% dan tahun depan sebesar 6%.

“Tahun 2014 angka (pertumbuhan ekonomi) pesimistis 5,5%, lalu 5,7% itu moderat, dan 6% itu moderat dengan effort (usaha lebih). Sementara di atas 6% itu optimistis. Pemerintah ingin moderat, jangan terlalu optimistis karena akan mempengaruhi pasar. Tapi kita juga mau yang moderat dengan effort,” jelasnya.

Inflasi pada akhir tahun ini masih akan diprediksi akan mencapai 9,2%. Sementara di 2014 diharapkan dapat kembali lagi pada angka 5,5%. “Puncak inflasi tahun ini sudah terjadi Juli-Agustus. Mudah-mudahan inflasi September rendah. Tahun depan kita harapkan bisa mencapai 5,5% sesuai dengan target,” sebutnya.

Dalam rapat dengan Badan Anggaran DPR tersebut, juga dibahas terkait capaian target pengurangan kemiskinan. Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi dan Pembangunan Bappenas Bambang Prijambodo mengatakan, target kemiskinan 10% dari PDB untuk tahun ini tidak akan tercapai.

“Kalau kita gunakan angka inflasi 5,5% dan pertumbuhan ekonomi 6%, maka kira-kira ada potensi tingkat kemiskinan lebih dari 10% tapi tidak terlalu jauh kalau kita upayakan,” ungkapnya.

“Pemerintah tetap gunakan target kemiskinan 10%. Selama ekonomi kita investasinya tidak terlalu terpukul, maka lapangan kerja bisa tercipta. tapi kalau ekonomi terpukul seperti 2005-2006 tidak hanya kenaikan harga tapi moneter terganggu,” kata Bambang Prijambodo.

 

sumber : finance.detik.co.id