Suku bunga penjaminan LPS bisa mekar lagi

Suku bunga penjaminan LPS bisa mekar lagi

JAKARTA. Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) menyalakan  sinyal akan menaikkan lagi suku bunga penjaminan (LPS rate). Ruang menempuh kebijakan itu memang terbuka lebar. Maklum, dalam tempo dua bulan, Bank Indonesia  (BI) telah menaikkan suku suku bunga acuan alias BI rate sebesar 0,75% alias 75 basis poin menjadi 6,5%.

Perbankan nasional langsung berancang-ancang mengerek suku bunga deposito demi menjaga likuiditas mereka.

Kepala Eksekutif LPS Mirza Adityaswara mengatakan hingga kini belum menetapkan suku bunga penjaminan untuk Juli 2013, karena masih memantau pergerakan suku bunga deposito di 58 bank nasional. Pada Juni 2013, LPS sudah menaikkan suku bunga penjaminan  mata uang rupiah di level 5,75% dan valuta asing 1,25%. Adapun bunga penjaminan bank perkreditan rakyat (BPR) dipatok 8,25%. Di bulan sebelumnya, bunga penjaminan LPS masing-masing 5,5%, 1% dan 8%.

Kepala Ekonom LPS, Dody Ariefianto, mengemukakan LPS tengah memantau 58 bank yang meliputi bank papan atas, menengah dan kecil. Mayoritas nasabah menyimpan dana di kelompok bank tersebut. Apabila bank menaikkan bunga simpanan 0,25% hingga 0,50%, LPS akan mengerek bunga penjaminan sama seperti bank.

Ada beberapa perbankan nasional yang memasang kuda-kuda menggenjot bunga simpanan. Salah satunya  Bank BNI. Bank berlogo angka 46 ini berniat menaikkan bunga deposito 25 basis point (bps) hingga 50 bps  pada Agustus 2013.

Kenaikan itu demi menarik dana jangka panjang, karena bank lain sudah mulai mendongkrak bunga simpanan nasabah berkantong tebal. Saat ini, suku bunga deposito BNI bertenor satu bulan sebesar 4,5%, tiga bulan 4,75% dan enam bulan hingga 24 bulan sebesar 5,2%. “Angkanya belum diputuskan tapi kami menaikkan rasio sesuai BI rate dan LPS rate,” kata General Manager Konsumer BNI Diah Sulianto kepada KONTAN, Rabu (17/7).

Bank Hana bahkan sudah mengerek bunga deposito sebesar 0,5%. Bank kecil lebih awal menawarkan bunga simpanan tinggi hingga di atas LPS rate, karena membutuhkan likuiditas besar dan harus bersaing dengan bank besar memupuk likuiditas. “Bunga deposito naik mulai Jumat lalu, dari 6,5% menjadi 7%,” kata Direktur Bank Hana Bayu Wisnu Wardhana.

Adapun Bank Rakyat Indonesia (BRI) belum berencana menaikkan bunga simpanan,  karena perlu menghitung likuiditas, permintaan kredit dan persaingan bunga simpanan di bank papan atas. BRI mengklaim, likuiditas masih aman meski ada kenaikan rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR). “Kami menopang likuiditas dari dana murah yang kini  60% terhadap dana,” ujar Direktur Keuangan BRI Achmad Baequni.

Bank Central Asia (BCA) juga belum berniat menaikkan  bunga deposito. “Sebelumnya kami sudah menaikkan bunga simpanan untuk menjaga kebutuhan likuiditas,” kata Direktur Konsumer BCA Henry Koenaifi. Sebelumnya, BCA mengerek bunga deposito dari 3,5% menjadi 5%.

Ketua Umum Perbanas, Sigit Pramono, berpendapat kenaikan bunga deposito untuk mengamankan likuiditas, karena bank  khawatir nasabah mereka pindah ke bank lain. Perkiraan kenaikan juga bervariasi dengan rasio 0,25 bps sampai 100 bps.  Nah, setelah mengerek bunga simpanan, Sigit memprediksi bank akan menaikkan bunga kredit.

 

sumber : keuangan.kontan.co.id