Sederet gebrakan BI sebelum bank beralih ke OJK

Sederet gebrakan BI sebelum bank beralih ke OJK

JAKARTA. Dalam hitungan bulan, pengawasan perbankan akan bermigrasi dari Bank Sentral ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK). Tapi Bank Indonesia (BI) tak lantas berdiam diri dan menunggu otoritasnya di industri perbankan lepas begitu saja.

BI malah membuat serentetan gebrakan. Dalam satu pekan dua pemikiran BI dipublikasikan. Pertama adalah jaringan Anjungan Tunai Mandiri (ATM) yang akan terkoneksi satu sama lain lebih luas Juli mendatang. Kedua, monopoli e-Toll Card oleh bank berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yakni Bank Mandiri harus segera diakhiri.

Rupanya dua hal besar tadi tak cukup. Masih berhubungan dengan sistem pembayaran, BI juga memiliki sebuah harapan akan penggunaan kartu di Indonesia. Pengawas perbankan ini berharap, akan ada satu kartu pintar yang digunakan untuk berbagai fungsi.

“Kami punya mimpi besar. Harusnya ada satu kartu pintar untuk kereta api, parkir, dan lain-lain. Jadi tak perlu pegang banyak kartu,” jelas Gubernur BI, Darmin Nasution, Senin, (6/5).

Ia melihat, sistem seperti ini sudah digunakan di negara tetangga. Darmin menyebut bahwa area ini dapat digunakan sebagai instrumen untuk melindungi sistem keuangan nasional. Sedikit demi sedikit, nantinya kartu perbankan di Indonesia akan mengarah ke sana.

Menyoroti e-Toll card Mandiri

Deputi Gubernur BI Ronald Waas mencontohkan bahwa bank penerbit e-money yang tergabung di Trans Jakarta sudah bertambah dari 5 menjadi 6 bank.

“Ini hal yang baik bagi nasabah,” ungkapnya.

Bahkan, penggunaan e-money di PT Kereta Api Indonesia saat ini pun sedang didorong BI untuk tak hanya dimonopoli oleh satu bank saja. Ronald berharap bahwa dengan adanya hal tersebut diharapkan bisa lebih tertib dengan adanya pengaturan pembayaran di stasiun.

“Kami sudah lakukan koordinasi,” akunya.

Ia berharap bahwa penggunaan e-Toll seharusnya tidak hanya dikuasai satu bank saja. Ia ingin, perjanjian antara PT Bank Mandiri Tbk. (BMRI) dengan PT Jasa Marga lama kelamaan akan mencair. Sehingga bank lain bisa turut masuk ke situ.

“Teknologi bukan bagian dari masalah, bagian dari solusi. Bagaimana bank bersaing secara baik di bidang ini. Sehingga bank bersaing tak lagi berkotak-kotak. Tapi di level lebih tinggi,” terang Ronald.

Disebutnya bahwa ia melihat ada beberapa Gardu Tol Otomatis (GTO) yang sampai ditutup menjadi pintu pembayaran biasa karena tak adanya pengguna. Maka dari itu, diharapkan bila semakin banyak bank yang masuk berarti akan semakin banyak masyarakat yang terbuka untuk menggunakan.

“Zaman dulu saat provider telepon genggam hanya bisa SMS sesamanya, pengguna SMS hanya sedikit, tapi ketika dibuka ke beberapa operator, langsung banyak orang menggunakan SMS. Nanti e-money diharapkan bisa seperti itu,” ceritanya.

Ia menjelaskan, ada 5 bagian penting dalam sistem pembayaran atau National Payment Gateway (NPG). Lima hal tersebut yakni aturan, kelembagaan, instrumen, mekanisme, dan infrastruktur. “Ini langkah pertama yang sudah baik jadi satu. NPG itu mimpinya,” ucap Ronald.

sumber : keuangan.kontan.co.id