Rupiah Merosot Hingga ke Rp 9.800/US$, Ini Tanggapan Chatib Basri

Rupiah Merosot Hingga ke Rp 9.800/US$, Ini Tanggapan Chatib Basri

Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS terus mengalami pelemahan dalam beberapa hari belakangan. Berdasarkan kurs BI, nilai tukar rupiah telah mencapai level Rp 9.800/US$.

Menteri Keuangan Chatib Basri mengungkapkan, melemahnya nilai tukar rupiah beriringan dengan mata uang lainnya di kawasan regional. Selain itu faktor ambil untung alias profit taking juga terlihat terjadi di pasar uang.

“Ini ada beberapa yang harus kita lihat, regionalnya. Kemarin itu juga di stock market naiknya tinggi sekali, saya belum cek pasar saham pagi ini. Mungkin juga terjadi karena profit taking yang dilakukan, biasanya orang seringkali kalau sudah naik besar mengambil (profit taking),” papar Chatib di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (29/5/2013).

Sentimen global, sambung Chatib membuat dolar semakin perkasa. Hal ini didasari oleh Gubernur Bank Sentral AS, The Fed yakni Ben S. Bernanke menyampaikan tentang quantitative easing atau stimulus ekonomi AS.

“Kemungkinan penghentian quantitative easing yang implikasinya itu kalau dilakukan bahwa arus capital dalam bentuk portofolio ke emerging market itu akan melambat walaupun ini sesuatu yang harus dilihat lebih jauh apakah betul AS menghentikan QE-nya karena walaupun ada perbaikan rasanya belum cukup kuat karena kemudian kebijakan ekspansi moneternya dihentikan,” papar Chatib.

Bagaimana dengan sentimen dalam negeri? Kenaikan BBM misalnya?

Chatib menjelaskan statement yang berkaitan dengan (kenaikan) BBM kemarin membuat pasar memang sempat merespon. Namun pasar saham justru langsung mengalami kenaikan.

“Kalau anda lihat indeks kemarin tinggi sekali naiknya, jadi kita nggak bisa simpulin kalo kemarin naik tinggi setelah itu itu yang jadi berita bahwa posisi pemerintah untuk naikkin BBM itu muncul terus marketnya tinggi. Saya nggak mau gara-gara itu market tinggi, gara-gara itu market tinggi karena sekarang rupiah melemah lagi. Lebih kepada fluktuasi pasar uang,” terangnya.

 

sumber : finance.detik.com