Rupiah Berpeluang Menguat Tahun Depan

Rupiah Berpeluang Menguat Tahun Depan

rupiahvsdolarJakarta -Nilai tukar rupiah pada 2013 berfluktuasi cukup hebat. Memasuki awal tahun, rupiah masih berada di kisaran Rp 9 ribu per dolar Amerika Serikat. Namun perlahan rupiah terus melemah dan kini sudah cukup lama bertengger di level Rp 12 ribu per dolar AS.

Pelemahan rupiah tidak lepas dari faktor eksternal dan internal. Dari eksternal, pelaku pasar khawatir dengan kebijakan pengurangan stimulus dari bank sentral AS (tapering off). Akibatnya, investor cenderung meninggalkan aset-aset di negara berkembang dan kembali ke instrumen yang paling aman yaitu dolar AS. Faktor ini tidak hanya mempengaruhi rupiah, tetapi juga mata uang lain di negara-negara berkembang.

Sedangkan dari dalam negeri, minimnya ketersediaan valas menyebabkan rupiah melemah. Kekurangan valas di pasar disebabkan tingginya impor dan pembayaran utang luar negeri, sementara pasokannya tidak memadai karena ekspor masih lemah.

Bagaimana perkiraan rupiah untuk tahun depan? Aldian Taloputra, Ekonom Mandiri Sekuritas, menyatakan ada peluang rupiah akan menguat di kisaran Rp 11.400 per dolar AS.

Penguatan rupiah disebabkan oleh membaiknya kondisi transaksi berjalan. Per kuartal III 2013, defisit transaksi berjalan tercatat sebesar US$ 8,4 miliar atau 3,8 persen terhadap produk domestik bruto (PDB).

Tahun depan, lanjut Aldian, defisit transaksi berjalan diperkirakan turun menjadi 2,7 persen PDB. “Rupiah akan menguat karena current account deficit akan mengecil, meski tidak secepat yang diinginkan,” ujarnya.

Destry Damayanti, Kepala Ekonom Bank Mandiri, menyebutkan salah satu faktor yang menyebabkan penurunan defisit transaksi berjalan adalah kebijakan kewajiban penggunaan biodiesel sebesar 10 persen. Kebijakan ini diharapkan mampu menekan impor bahan bakar minyak (BBM) yang membebani neraca perdagangan dan transaksi berjalan.

“Kami berharap nantinya bisa lebih dari 10 persen, karena potensi kita lebih dari itu. Semoga pemerintah berhasil, seperti saat konversi minyak tanah ke elpiji,” kata Destry.

Agus Martowardojo, Gubernur Bank Indonesia, juga meyakini rupiah akan kembali menguat pada awal tahun. Dia menyakini tekanan terhadap rupiah yang terjadi akhir-akhir ini hanya bersifat temporer.

Salah satu penyebab pelemahan rupiah, lanjut Agus, adalah tingginya permintaan valas untuk membayar kewajiban luar negeri yang jatuh tempo menjelang akhir tahun. “Akhir tahun ini permintaan dolar banyak karena korporasi-korporasi akan membayar deviden, pinjaman, dan repatriasi keuntungan. Nanti kalau kita melewati akhir tahun akan kembali sehat,” ucapnya.

Mengenai kebijakan tapering off di AS, Agus menilai dampaknya sudah diperhitungkan oleh para pelaku pasar sehingga mungkin tidak ada gejolak yang terlalu besar. Beberapa waktu lalu bank sentral AS sudah memulai tapering off dengan mengurangi pembelian obligasi sebesar US$ 10 miliar, dan kebijakan tersebut justru direspons positif oleh pasar.

“Ternyata dampaknya pada ekonomi global positif, yang istilahnya semua kondisi sudah diperhitungkan atau priced in. Malah sebetulnya pengumuman beritanya lebih baik dari yang diperkirakan,” tutur Agus.

 

sumber : finance.detik.com