Redam Keperkasaan Dolar, BI Kembali Terapkan ‘Jurus Kembar’

Redam Keperkasaan Dolar, BI Kembali Terapkan ‘Jurus Kembar’

Jakarta – Bank Indonesia (BI) kembali menerapkan strategi khusus untuk menahan laju penguatan dolar AS yang berdampak kepada nilai tukar rupiah. Bank sentral kembali menerapkan ‘Jurus Kembar’. Apa itu?

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Difi Johansyah mengatakan, ada dua strategi yang digunakan bank sentral untuk meredam gejolak nilai tukar rupiah.

“Pertama intervensi di pasar palas dan kemudian pembelian kembali Surat Berharga Negara (SBN/SUN) oleh bank sentral. Jurus Kembar BI,” ungkap Difi kepada detikFinance, Rabu (12/6/2013).

Dijelaskan Difi pembelian kembali akan dilakukan di pasar SBN yang dilelang hari ini. “Kita, BI siap tampung kalau mau ada yang lepas SUN,” terangnya.

“Jadi kalau intervensi valas, dolar keluar dan rupiah masuk ke BI. Kalau kita beli SUN, SUN masuk ke BI dan rupiah keluar dari BI. Dengan demikian likuiditas rupiah juga terjaga,” terangnya.

Cara seperti ini merupakan cara BI yang digunakan pada September 2011. Kala itu rupiah mengalami tekanan hebat karena investor asing menarik dananya dari pasar Surat Berharga Negara (SBN). Aksi jual menyebabkan harga SBN rontok dalam hitungan hari.

“Banyak pemain asing kehilangan kepercayaan kepada pasar domestik,” terang Gubernur BI Darmin Nasution kala itu.

“Bank Indonesia harus ambil tindakan! Kombinasi rontoknya SBN dan jatuhnya rupiah akan menjadi sebuah lingkaran mematikan sehingga membahayakan stabilitas nasional,” tegas Darmin.

Akhirnya, diwarnai dengan perdebatan alot bersama para petinggi bank sentral lainnya Darmin mengeluarkan kebijakan ‘operation twin’ atau ‘Jurus Kembar’. Yakni, intervensi di pasar palas dan pembelian kembali SBN oleh bank sentral.

Kebijakan ini diwarnai perdebatan karena kebijakan pembelian kembali seharunya tidak bisa dilakukan BI karena terbentur prosedur internal.

“Di AS operasi semacam ini dilakukan. Mereka menyebutnya operation twist. Saya menyebut operasi BI ini dengan operation twin. Mengapa tidak bisa?” tutur Darmin.

 

sumber : finance.detik.com