Rakernas Perbarindo 26 – 27 Oktober 2016 di Pontianak, Telah Sukses di Gelar

Rakernas Perbarindo 26 – 27 Oktober 2016 di Pontianak, Telah Sukses di Gelar

rakernas_perbarindo_2016Pada tanggal 26 – 27 Oktober 2016, Perbarindo (Perhimpunan Bank Perkreditan Rakyat Indonesia) telah sukses menggelar acara Seminar Nasional dan Rakernas Perbarindo 2016, salah satu tujuannya yaitu agar BPR dapat memberikan palayanan yang optimal kepada UMKM, BPR harus mampu meningkatkan efisiensi dan produktivitasnya, sehingga dapat bersaing dengan lembaga keuangan lainnya. Dengan mengusung tema “Industri BPR – BPRS Sebagai Pilar Ekonomi Daerah Dalam Mewujudkan Kesejahteraan Rakyat”. yang telah dihadiri oleh kurang lebih 500 peserta BPR seluruh indonesia.

Bank Perkreditan Rakyat (BPR) terus melakukan inovasi, khususnya di bidang pemanfaatan teknologi. Guna menjangkau kedekatan pada nasabahnya.

Diusianya yang ke 26 tahun, system teknologi BPR terus mengalami pengembangan. Teknologi informasi menjadi sarana empuk untuk sosialisasi, guna menyampaikan fungsi BPR secara keseluruhan.

Peranan teknologi sangat efekftif. Apalagi semenjak berdirinya Perbarindo, baik kuantititas dan nasabah turut meningkat setiap tahunnya.

“Kita sebagai institusi perbankan harus menjalankan good government. Artinya teknologi sebenarnya sudah dimanfaatkan sejak berdirinya BPR. Tidak mungkin BPR tidak memiliki sistem yang memadai,” ujar Joko Suyanto Suyanto, Ketua Umum Perbarindo saat konferensi pers usai Rakernas di Hotel Golden Tulip Pontianak, kemarin.

Menurut Joko Suyanto, pengembangan teknologi banyak tahapannya. Seperti dirinya membangun BPR pasti corporate, sistemnya menggunakan teknologi. Pengembangannya sesuai dengan kebutuhan regulasi, tuntutan service level, agar menjadi baik serta ada tuntutan efisiensi.

“Jadi, apa yang dicanangkan dalam rapat kerja nasional di Pontianak ini, membangun sinergi di berbagai pihak. Seperti Telkom Indonesia, feldafraksis dan seterusnya. Itu semua dalam rangka pengembangan teknologi, bukan BPR tanpa teknologi sebelumnya,” jelas Joko Suyanto.

Di bank umum pun, kata Joko Suyanto, yang namanya teknologi bergerak dinamis dan berlaku seumur hidup. Demikian pula yang terjadi di BPR.

“Teknologi di BPR tidak bisa dibandingkan dengan bank umum, karena market dan nasabahnya berbeda. Maka yang kita inginkan, teknologi yang dimiliki dinaikkan ke level yang lebih tinggi lagi. Sehingga kita bisa menjalin kerjasama dengan beberapa bank umum seperti CMB dan lain sebagainya,” papar dia.

Salah satu pemanfaatan teknologi yang dicontohkan Joko Suyanto, nasabah bisa menggunakan ATM atas kerjasama pihaknya dengan bank umum. Apabila menggunakan ATM sendiri, maka harus menjadi issuer. Sedangkan membangun issuer, infrastrukturnya terlalu berat.

“Makanya kita melalui asosiasi melakukan kerjasama dengan bank umum. Konsekuensi dari kerjasama itu, maka level IT BPR juga harus ditingkatkan,” tegas Joko Suyanto.

“Harapan kita dengan kerjasama, banyak BPR menggunakan ATM atau teknologi yang bisa dimanfaatkan bersama,” sambungnya.

Hal lainnya, jelas Joko Suyanto, layanan keuangan digital yang barusan di standing MoU dengan Bank Mandiri, basisnya menggunakan teknologi. Kalau Mandiri ada Mandiri e-cash, BPR ada BPR e-cash nya nanti. Jadi kalau sudah termanfaatkan untuk pelayanan public, maka masyarakat diuntungkan, lantaran lebih efisien. “Sisi lainnya, BPR bisa mendapatkan likuidasi yang baik dan mendapatkan income,” imbuhnya.

Joko Suyanto mengklaim, bahwasanya dengan teknologi, tidak sedikit BPR yang sudah jauh lebih berkembang. Bahkan ada aset BPR yang mencapai Rp6 triliun. Menurutnya sangat luar biasa, lantaran teknologinya sudah sangat memadai dan tidak kalah jauh dengan bank umum.

“Kalau bicara literasi dan edukasi, jangankan BPR, perbankan seluruh Indonesia literasi pelayanan masih harus ditingkatkan. Artinya, perkuat kerjasama perbankan. Agar masyarakat memiliki rasa owners yang baik ke perbankan,” ungkap Joko Suyanto.

Namun kenyataan di lapangan, masyarakat Indonesia masih banyak yang belum terkoneksi dengan perbankan. Sedangkan publikasi BPR sangat luar biasa. Bahkan diwajibkan melakukan literasi keuangan ke masyarakat dan sudah dilakukan, sehingga perkembangan BPR cukup pesat.

“Lihat saja BPR termasuk di Kota Pontianak sudah berkembang. Kalau tidak, kan tidak mungkin ada orang yang membeli produknya BPR. Kemudian secara nasional, kita bangun berbagai hal seperti majalah yang kita miliki terbit setiap dua bulan. Kita juga buat website-nya Perbarindo yang isinya mengenai pelayanan perbankan,” tegas Joko Suyanto.

“Contohnya, rapat kerja seperti ini setiap tahun ke provinsi berbeda, tujuannya mensosialisasikan BPR ke daerah dan nasional pada umumnya. Karena ini diikuti BPR se Indonesia,” ujar Joko Suyanto.

Gubernur Drs. Cornelis, MH yang turut hadir dan meresmikan Rakernas serta seminar Perbarindo mengharapkan, Perbarindo lebih gencar melakukan sosialisasi pada masyarakat, agar lebih dikenal. Terlebih memanfaatkan teknologi sesuai dengan perkembangannya.

“Yang paling penting adalah manusianya. Bagaimana bisa mengembangkan BPR ini. Harus benar-benar melayani dengan menggunakan teknologi yang sudah canggih,” tegas Cornelis.

Menurutnya, tidak hanya di Kalbar, se Indonesia keberadaan Perbarindo memang sudah cukup banyak berkembang. Hanya saja pengembangan harus terus dilakukan. Inovasi adalah kunci agar Perbarindo bisa lebih eksis, sama seperti bank pada umumnya.

“Dari yang kecil-kecil ini dikumpulkan, agar bagaimana bisa menjadi besar. Pasar kita bagus, dan bisa dikembangkan,” tutur Gubernur Cornelis.

Jangan sampai, tegas Cornelis, ada masyarakat yang belum tahu keberadaan Perbarindo. Sosialisasi dan berikan pemahaman sejelas mungkin, agar Perbarindo tidak hanya diketahui dan dimengerti saja. Melainkan dapat menghimpun masyarakat menjadi nasabahnya.

“Ini kredit perputaran keuangan dan mengelola keuangan juga pada nasabahnya, harus diberikan pemahaman agar jangan sampai pinjam uang, tapi tidak bisa bayar,” jelas Cornelis.

 

Sumber : perbarindo.or.id, http://equator.co.id