Rakernas Perbarindo 2013: BPR MENGUBAH PARADIGMA DENGAN MODERNISASI

Rakernas Perbarindo 2013: BPR MENGUBAH PARADIGMA DENGAN MODERNISASI

Perhimpunan Bank Perkreditan Indonesia (Perbarindo) menggelar gawe nasional ketiganya di era kepengurusan 2010-2014. Modernisasi BPR dan kemudahan akses UMKM menjadi tema sentral  pada Rakernas dan Seminar Perbarindo di Manado, Sulawesi Utara ini.

 

       Sambutan Ketum   Manado Convention Center, Sulawesi Utara, (17/10) pagi itu tampak hiruk-pikuk dipadati oleh insan BPR untuk mengikuti Rakernas, Seminar Nasional dan Expo UMKM Perbarindo 2013. Usai melakukan registrasi, secara bergelombang namun tertib 420 peserta yang terdiri dari 24 DPD Perbarindo se-Indonesia itu pun memasuki gedung yang mampu menampung sekitar 1.000 orang.

Sejumlah panitia yang dikomandoi oleh Denny T. Senduk terlihat sigap melayani sejumlah peserta yang datang. Alunan musik tradisional yang dimainkan sejumlah orang pun kerap terdengar mengiringi setiap langkah setiap peserta yang datang ke Mando. “Tentu kebanggaan bagi kami karena DPP Perbarindo menetapkan DPD Provinsi Sulut-Gorontalo untuk menjadi tuan rumah. Semoga acara ini dapat memberi manfaat kepada BPR dan pelaku UMKM,” kata Ketua Panitia Pelaksana, Denny T. Senduk, sesaat sebelum rakernas dan seminar dibuka.

Usai acara seremonia seperti tari pembukaan khas Minahasa, seluruh peserta Rakernas dan Seminar Perbarindo 2013  diajak untuk menyayikan lagu Indonesia Raya dan Mars BPR. Para tamu dan undangan seperti; Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas, Wakil Ketua Komisi XI DPR-RI DR. Harry Azhar Azis, Dewan Komisaris OJK Bidang Perbankan Nelson Tampubolon, Pengamat Ekonomi Sri Adiningsih, dan lain-lain pun terlarut dalam prosesi tersebut.

Ketua DPP Perbarindo Joko Suyanto dalam sambutannya mengungkapkan bahwa “Modernisasi BPR dalam Upaya Mendorong Pertumbuhan dan Kemudahan Akses bagi UMKM dalam Menghadapi Persaingan Global” yang menjadi tema Rakernas kali ini merupakan penyesuaian atas isu industri BPR saat ini. “Persaingan pasar semakin ketat yang dipicu oleh kebijakan pemerintah maupun regulator yang mendorong perbankan meningkatkan akses keuangan khususnya pada masyarakat kecil,” kata Joko.

Selain itu, kata Joko, kondisi ekonomi yang semakin terbuka dan adanya program Masyarakat Ekonomi Asean akan menambah sengit di pasar UMKM, yang selama ini menjadi domain industri BPR. Maka upaya modernisasi industri BPR merupakan inisiasi khususnya Perbarindo yaitu bagaimana meningkatkan layanan pada masyarakat khususnya yang belum tersentuh perbankan. Moderniasasi industri bpr dimulai dengan mengubah paradigama bersama. “Sudah saatnya kita beranjak dari pelayanan yang sifatnya tradisional dengan lebih memanfaatkan kemajuan teknologi sebagai bagian yang tak terpisahkan dari layanan pada masyarakat,” tandas Joko dalam sambutannya.

Sementara itu Deputi Gunernur Bank Indonesia Ronald Waas mengutarakan bahwa saat ini perubahan di tatanan ekonomi global telah berdampak kepada ruang gerak bidang keuangan dan tidak terkecuali otoritas dan pemerintah. Menurutnya hal tersebut perlu direspons aktif dari semua pihak, apalagi tantangan eksternal ke depan adalah tentang bagaimana menekan defisit neraca pembayaran. Sejauh ini, Bank Indonesia telah berusaha menjaga stabilitas ekonomi makro meski nila tukar rupiah sempat terkoreksi tajam beberapa waktu lalu.

“Kita patut bersyukur di tengah stagnasi likuiditas ekonomi global, ekonomi nasional masih mengalami pertumbuhan. Tahun 2012 ekonomi tumbuh secara kompetitif dibanding negara lain  di dunia (6,3%). Pencapain pertumbuhan yang baik itu kami perkirakan masih berlanjut dan cukup tumbuh di tahun 2013 dengan kisaran 5,5 persen,” kata Ronald Waas dihadapan peerta Rakernas dan Seminar Perbarindo 2013.

Ronald juga mengingatkan bahwa tahun 2013 ini merupakan tahun kritikal untuk seluruh industri perbankan termasuk BPR. “Karena tahun ini kita juga menghadapi berbagai persiapan perubahan fungsi dan pengaturan bidang jasa keuangan. Kehadiran OJK diharapkan semakin memperkuat ketahanan keuangan negara kita,” imbuh Ronald.

 

Gubernur Sulut Buka Rakernas

Usai memberikan sambutannya, Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang secara resmi membuka Rakernas, Seminar dan Expo UMKM Perbarindo 2013 di Manado Convention Center dengan prosesi pemukulan gong. Tepuk tangan dari seluruh peserta yang hadir pun membahana seiring bunyi gong yang berdengung selama tiga kali sekaligus menandai dibukanya Rakernas Perbarindo 2013 yang berlangsung selama dua hari (17-18 Oktober 2013).

Dalam prosesi tersebut, H.S Sarundajang didampingi oleh Ketua Umum Perbarindo Joko Suyanto, Ketua Panitia Denny T. Senduk, Deputi Gubernur Bank Indonesia Ronald Waas, dan Dewan Komisaris OJK Bidang Perbankan Nelson Tampubolon. Setelah prosesi pemukulan gong acara berlanjut pada penandatangan MoU (memorandum of understanding) antara DPP Perbarindo dengan PT Telkom Indonesia dan DPD Perbarindo Sulawesi Utara-Gorontalo dengan Bank Sulut.

Dalam kesempatan terpisah, Ketua Panitia Rakerna Denny T. Senduk menyampaikan usulan agar menjadi deklarasi pada Rakernas Perbarindo di Manado kali ini. “Kami dari Perbarindo Sulut-Gorontalo ingin memberikan deklarasi Sulut agar pemerintah dapat memberikan KUR (kredit usaha rakyat—red) di tahun mendatang kepada BPR,” ujarnya. Cukup beralasan mengingat selama ini hanya bank umum saja yang menyalurkan KUR.

 

sumber : perbarindo