Prediksi OJK : Kredit tahun 2015 stagnan

Prediksi OJK : Kredit tahun 2015 stagnan

ojk2JAKARTA. Musim seret kredit diperkirakan bakal membaik pada tahun depan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) meramal, kredit perbankan pada tahun 2015 bakal mampu tumbuh 16%-18%. Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan menyatakan, asumsi pertumbuhan kredit mengacu pada asumsi pertumbuhan ekonomi Tanah Air yang diperkirakan 5,8% sepanjang tahun depan.

Itu artinya, kucuran kredit perbankan akan stagnan dari kondisi tahun ini (lihat tabel). Tahun ini, OJK dan Bank Indonesia (BI) meramal, kredit tumbuh sekitar 15%-17%. “Pertumbuhan kredit perbankan ditentukan oleh pertumbuhan ekonomi. Dengan target pertumbuhan ekonomi meningkat, pertumbuhan kredit tahun depan bisa sedikit lebih tinggi,” ujar Muliaman.

Achmad Baiquni, Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia (BRI) mengungkapkan, target pertumbuhan BRI tahun depan sejalan dengan arahan OJK. “Sepertinya akan sejalan. Kami masih memperhitungkan dan masih dalam proses penyusunan rencana bisnis bank (RBB) tahun 2015,” jelas Baiquni, Senin (20/10). 

Setali tiga uang, Bank OCBC NISP pun mematok pertumbuhan kredit yang sama dengan otoritas. Parwati Surjaudaja, Presiden Direktur OCBC NISP mengungkapkan, pihaknya masih memfinalisasi RBB tahun depan. Selain proyeksi OJK, OCBC NISP memperhitungkan faktor pasar.

“RBB masih dalam proses pematangan penyusunan dan akan diserahkan pada November 2014.  Tapi kami akan selaraskan dengan arahan OJK,” ucap Parwati. Taswin Zakaria, Presiden Direktur Bank Internasional Indonesia (BII) optimistis, pertumbuhan kredit pada tahun depan lebih tinggi dari target acuan OJK.

Alasannya, “Pemerintahan baru melahirkan kebijakan positif bagi perekonomian sehingga ekonomi dapat kembali menggeliat,” ujar dia. Hingga kuartal III lalu, kredit BII tumbuh 16% menjadi sekitar Rp 95,56 triliun.

Ada yang pesimitis

Nada pesimistis justru datang dari Bank Central Asia (BCA). Bank milik Grup Djarum ini menargetkan, pertumbuhan kredit tahun 2015 di kisaran 13% – 15%. Target rendah ini memperhitungkan faktor likuiditas yang masih ketat. “BCA masih berasumsi dana pihak ketiga (DPK) hanya naik sekitar 12% -13% saja. Jadi karena masalah kemampuan peningkatan sumber dana,” jelas Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja.

Bank kecil juga pesimitis. Edy Kuntardjo, Direktur Utama Bank Ina Perdana mematok pertumbuhan kredit tahun 2015 sebesar 10%. Target konservatif ini karena risiko ekonomi Indonesia yang terkena imbas rencana The Fed menaikkan suku bunga.

 

sumber : keuangan.kontan.co.id