Persaingan bunga bank makin panas

Persaingan bunga bank makin panas

uang2JAKARTA. Perbankan Tanah Air masih akan mengalami kekeringan likuiditas. Pasalnya, pengetatan likuiditas mulai terjadi pada bank papan atas. Ini tercermin dari rasio pinjaman terhadap simpanan atau loan to deposit ratio (LDR) perbankan yang terus naik.

Misalnya, pada November 2013, rasio LDR 89%. Kini rasio LDR sudah mencapai 95%. “Persaingan perebutan dana akan terjadi pada bank-bank besar,” Kartika Wirjoatmodjo, Kepala Eksekutif Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), akhir pekan lalu.

Dia menjelaskan, sebesar 64% dana pihak ketiga (DPK) perbankan dikuasai oleh sepuluh bank besar. Sedangkan 70 kelompok bank kecil hanya memiliki porsi 6% terhadap total dana perbankan.

Kartika bilang, persaingan dana pada bank besar mulai terjadi sejak tahun lalu. Buktinya, kelompok bank besar menaikan bunga simpanan paling besar yakni hingga 200 basis point (bps) menjadi 6,20% per Desember 2013, dari posisi Maret 2013 sebesar 4,20%. Sedangkan, kelompok bank sangat besar menaikan 166 bps menjadi 6,35% per Desember 2013, dari 4,69% dari Maret 2013.

Kenaikan tersebut melampaui kenaikan bunga acuan BI dan LPS yang sebesar 175 basis poin.

Budi Gunadi Sadikin, Direktur Utama Bank Mandiri mengakui, likuiditas perbankan memang masih ketat sehingga menimbulkan persaingan dalam perebutan dana. Pihaknya, akan menjaga rasio LDR dikisaran 85% – 90%, dari posisi rasio LDR 85,4% per November 2013. “Untuk menjaga likuiditas, kami tidak menggenjot kredit tinggi tahun 2014 ini,” kata Budi.

Ia mengaku, pihaknya memberikan bunga di atas LPS rate untuk menjaga nasabah tidak kabur ke bank lain. Namun, kenaikan bunga ini diklaim tidak sebesar yang dilakukan bank beraset lebih kecil, karena persaingan terjadi di empat bank raksasa saja. “Nasabah yang meminta bunga tinggi, toh dijamin atau tidak dijamin itu sama saja bagi nasabah,” ucap Budi.

Sementara itu, Tri Joko, Direktur Keuangan Bank Bukopin, menyampaikan, tidak bisa dipungkiri terjadi persaingan suku bunga simpanan pada dana, karena perbankan semua mengejar pendapatan dana. Adapun, Bukopin menjaga rasio LDR di level 87%-88%, dari posisi LDR saat ini di 85%. “Harga yang diberikan kepada nasabah menjadi penentu dana bank,” ucapnya.

Likuiditas Bank CIMB Niaga juga makin ketat. Seperti rasio LDR untuk bank saja menjadi 90% pada akhir Desember 2013. Padahal, per akhir September, posisinya masih 89,92%. Sedangkan LDR konsolidasi naik 200 bsp menjadi 95% per akhir tahun lalu, dibandingkan posisi September di level 93,93%.

Meski LDR terus naik, bank milik investor Malaysia ini tidak menargetkan pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) yang tinggi pada tahun 2014. “DPK CIMB Niaga akan sedikit di bawah target rata-rata industri perbankan,” kata Wan Razly Abdullah, Chief Financial Officer Bank CIMB Niaga. Untuk mengimbanginya, perusahaan ini juga membatasi penyaluran kredit dan menargetkan pertumbuhan kredit di bawah pasar.

A. Prasetyantoko, Kepala Ekonom BTN, berpendapat, tahun 2014 ini perbankan harus mengoreksi kembali rasio LDR dengan secara aktif mengurangi porsi kredit. Harus diakui, ini bukan kesempatan bagus untuk perbankan karena akan berakibat buruk terhadap margin. “Konsolidasi internal seperti perbankan rasio kredit bermasalah akan membantu pendapatan laba,” jelasnya.

sumber : keuangan.kontan.co.id