Perencana Keuangan, Akibat Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga (2)

Perencana Keuangan, Akibat Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga (2)

uang2Jakarta -Kalau dalam tulisan sebelumnya saya membahas apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang Perencana Keuangan dalam memberikan layanan kepada kliennya, maka tulisan kali ini saya bahas dari sisi berbeda yaitu apa yang seharusnya dilakukan oleh seorang calon klien, sehingga Anda tidak salah pilih calon Financial Planner.

Karena di Indonesia belum ada undang-undang yang mengatur tentang Profesi Perencana Keuangan ini (baru mau akan dibuat), maka menjadi penting bagi seorang calon klien untuk lebih berhati-hati dalam memilih calon konsultan Perencana Keuangan mereka.

Yang harus diketahui oleh calon klien adalah, seorang Financial Planner bukanlah superman atau wonderwoman yang mengetahui semua hal tentang keuangan maupun produk keuangan.

Apalagi ketika Anda mengetahui Perencana Keuangan tersebut masih baru berkecimpung di bidang keuangan dan Perencana Keuangan ini, sebaiknya dicek lagi apakah Perencana Keuangan tersebut memiliki mentor atau senior yang berpengalaman ataukah mereka berjalan sendiri saja tanpa mentor atau senior berpengalaman.

Jadi, apa yang harus diperhatikan dalam memilih seorang Perencana Keuangan yang akan membantu mengatur keuangan Anda? Pertama cek latar belakang pendidikan Perencana Keuangannya.

Saat ini banyak sekali pendidikan dan sertifikasi Perencana Keuangan, sebagian besar materi diajarkan oleh mereka yang sama sekali tidak pernah menjadi konsultan Perencana Keuangan atau tidak pernah melakukan Perencana Keuangan kepada klien seumur hidupnya alias penuh dengan teori saja.

Cari Perencana Keuangan yang mempunyai latar belakang pendidikan yang diajarkan oleh Praktisi Perencana Keuangan langsung, serta diajarkan dan mengerti cara membuat sebuah buku Perencana Keuangan (book plan) sekurang-kurangnya 3-5 book plan.

Jangan hanya percaya dengan gelar atau julukan atau nama Perencana Keuangan. Di IARFC, Perencana Keuangan dengan gelar RFA & RFC sudah melampaui serangkaian tes, uji kasus/sidang dan membuat BookPlan sedikitnya 3 kali sebelum mereka lulus dengan gelar, di mana salah satu persyaratan untuk lulus harus melalui defense (mempertahankan) sidang kasus.

Cek pengalaman mereka dalam memberikan layanan kepada klien lain. Sudah berapa banyak klien, apakah mengerjakan plan secara komprehensif atau hanya sepotong-sepotong saja.

Banyak Perencana Keuangan yang memutuskan tidak melayani klien one-on-one. Perencana Keuangan ini lebih memilih jalur edukasi ke masyarakat melalui talkshow, acara TV, Radio, tulisan dan lain sebagainya.

Namun, ada juga Perencana Keuangan yang tidak pandai bicara dan memilih untuk hanya mengerjakan kasus saja. Ada bagus memilih perencana keuangan yang bisa melakukan keduanya, sehingga Anda pun bisa teredukasi baik secara book plan maupun melalui keterangan ketika mereka melayani Anda.

Jam terbang menjadi kunci utama dalam memberikan layanan kepada Anda. Semakin tinggi jam terbang semakin baik. Apalagi kalau Perencana Keuangannya memiliki pengalaman tidak hanya di Indonesia tapi juga di luar negeri.

Apabila perencana keuangan tersebut berpengalaman masih di bawah 5 tahun dalam memberikan layanan sebagai seorang Perencana Keuangan, maka pastikan mereka mempunyai mentor atau senior perencana keuangan yang mengawasi kinerja mereka, sehingga tidak salah dalam melakukan perencanaan dan memberikan rekomendasi produk.

Sering tampil di TV, ngetop dan sering tampil di media saja tidak membuktikan jam terbang mereka dalam memberikan layanan one-on-one langsung ke klien.

Pada akhirnya seperti kata lagu, Perencana Keuangan juga manusia, di mana selalu ada peluang dalam membuat kesalahan. Itulah sebabnya penting untuk melakukan second opinion alias mendapatkan pendapat kedua dalam hal perencanaan dan rekomendasi produk terutama dari Perencana Keuangan Senior atau Master, sehingga anda bisa terhindar dari kerugian.

Ingat, Anda sudah bekerja keras dalam menabung dan mengumpulkan uang sejak lama. Jangan sampai uang yang susah payah Anda kumpulkan terbuang sia-sia karena tidak melakukan PR, karena percaya saja karena hubungan didasarkan atas pertemanan bukan profesionalisme.

 

sumber : finance.detik.com