Perencana Keuangan, Akibat Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga (1)

Perencana Keuangan, Akibat Nila Setitik Rusak Susu Sebelanga (1)

industrikeuanganJakarta -Itulah yang terjadi dengan dunia dan industri Perencana Keuangan alias Financial Planning saat ini. Profesi yang baru saja berkembang dan naik daun ini kemudian dihantam prahara karena terjadi kasus yang diduga melibatkan seorang Perencana Keuangan ngetop ibu kota.

Apalagi klien yang mengajukan keluhan adalah seorang public figure, tentu saja kasus ini langsung naik daun dan menjadi sorotan banyak media.

Dalam tulisan ini saya tidak ingin mengomentari kasus tersebut karena sudah masuk ke ranah hukum jadi biarlah nanti hukum yang membuktikannya, tetapi lebih ingin membahas mengenai tata cara yang sebaiknya dilakukan oleh seorang Perencana Keuangan dan juga calon klien agar kejadian seperti ini tidak terulang lagi.

Seorang Perencana Keuangan tugas utamanya adalah membuat perhitungan dari suatu perencanaan yang diinginkan oleh kliennya. Meskipun seorang Perencana Keuangan membuat sesuai keinginan klien, akan tetapi apabila ada hal-hal yang diinginkan kliennya tidak sesuai dengan ilmu Perencana Keuangan yang dimilikinya, maka sudah menjadi kewajiban bagi seorang Perencana Keuangan untuk memberikan peringatan atas hal tersebut.

Ingat, seorang Perencana Keuangan adalah Konsultan yang memberikan nasihat, bukan seorang tukang juru ketik atau juru hitung yang tugasnya hanya mengikuti keinginan klien meskipun itu salah. Oleh sebab itu, ada baiknya peringatan ini didokumentasikan dengan baik agar apabila terjadi perselisihan di kemudian hari bisa menjadi alat bukti.

Dalam hal seorang Perencana Keuangan kemudian memberikan rekomendasi dari suatu produk keuangan, maka Perencana Keuangan tersebut harus mempunyai izin atas produk yang direkomendasikan (apabila produk tersebut mempunyai izin khusus).

Sebagai contoh, apabila seorang Perencana Keuangan memberikan rekomendasi produk reksa dana, maka sebaiknya mempunyai izin Wakil Agen Penjual Efek Reksa Dana atau WAPERD.

Hal lain yang tidak kalah penting bahkan sering dianggap sepele adalah, seorang Perencana Keuangan tidak dibenarkan untuk memberikan rekomendasi produk atau membiarkan seorang klien menempatkan dananya pada produk keuangan ataupun non keuangan dan investasi yang tidak sesuai dengan profil risikonya.

Dengan kata lain, apabila kliennya setelah melakukan isian profil risiko dan hasil interview profil resiko mempunyai hasil sebagai investor agresif, maka Perencana Keuangan tidak diperbolehkan merekomendasikan kliennya untuk menempatkan dana pada produk keuangan atau investasi yang spekulatif seperti misalnya pada trading valuta asing, trading emas berjangka ataupun bisnis dan usaha yang baru saja dimulai dan belum terbukti secara bisnis dan usahanya (unproven business).

Salah satu tugas utama seorang Perencana Keuangan adalah memberikan edukasi kepada calon klien dan kliennya. Maka sehubungan dengan paragraf di atas, ketika klien ingin berinvestasi di luar profil risikonya, sudah menjadi kewajiban Perencana Keuangan untuk memberikan edukasi dan peringatan terhadap risiko investasi tersebut termasuk juga risiko kehilangan uang kliennya.

Bentuk edukasi dan peringatan tersebut juga sebaiknya didokumentasikan dalam bentuk surat pernyataan yang juga ditandatangani oleh klien. Kelalaian dalam melakukan hal ini menunjukan bahwa Perencana Keuangan tersebut tidak melakukan tugasnya dengan baik.

Dalam tulisan berikutnya, akan saya bahas apa yang seharusnya dilakukan oleh calon klien dan klien ketika berhadapan dengan seorang Perencana Keuangan, serta bagaimana memilih seorang Perencana Keuangan yang baik dan benar.

 

sumber : keuangan.kontan.co.id