OUTLOOK 2015: Perbankan Siapkan Skenario Terburuk

OUTLOOK 2015: Perbankan Siapkan Skenario Terburuk

bankJAKARTA—Meskipun sebagian kalangan meyakini situasi ekonomi 2015 bakal kondusif, industri perbankan agaknya sudah bersiap diri dengan skenario terburuk. Mereka pun dituntut meramu strategi lebih jitu demi terus meraup laba.

Outlook 2015 adalah funding game, memacu pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK),” ujar Country Officer Citi Indonesia Tigor M Siahaan, Rabu (12/11/2014).

Menurutnya, perbankan harus memacu pertumbuhan DPK agar mampu mengimbangi pertumbuhan kredit yang terus tumbuh. Dia tidak menampik strategi semacam itu bisa berujung pada melonjaknya cost of fund jika bank tak proporsional. Namun dia meyakini upaya menarik lebih banyak dana murah masih realistis dilakukan.

“Di sistem perbankan ini berlaku zero sum game. Banyak sekali cara , tidak hanya ritel tapi bisa juga dari korporasi, harus dilihat secara holistik.”

DPK mutlak dibutuhkan bank untuk menjalankan bisnis. Namun faktanya, komposisi deposito yang dominan justru kerap merepotkan bank lantaran beban bunga yang besar.

Sebagai gambaran nilai total simpanan pada Agustus 2014 menurut Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) meningkat Rp81,26 triliun atau 2,12% dibandingkan bulan sebelumnya. Total simpanan hingga akhir Agustus mencapai Rp3.913,8 triliun.

Peningkatan nominal simpanan pada periode tersebut dipicu oleh kenaikan simpanan dengan nominal di atas Rp5 miliar yang mencapai 4,77% month to month. Total simpanan jumbo tersebut mencapai Rp1.750,2 triliun atau 44,72% dari seluruh total simpanan. Artinya komposisi dana mahal di perbankan masih cukup besar.

Kondisi tersebut juga tak banyak berubah di bulan berikutnya.

Berdasarkan data Bank Indonesia pada September 2014 total DPK yang berhasil dihimpun perbankan mencapai Rp3.864,3 triliun, atau 12,2% lebih tinggi dibandingkan dengan pertumbuhan periode Agustus 2014 yang tercatat 11,6%. Namun pertumbuhan dana murah khususnya tabungan pada periode tersebut ternyata tak cukup menggembirakan.

Pada September 2014 tabungan tercatat Rp1.214,1 triliun atau tumbuh 6,9% year on year, lebih rendah dibandingkan pertumbuhan Agustus 2014 yang mencapai 8,6%.

Peningkatan pertumbuhan DPK pada September 2014 terutama bersumber dari giro yang mencapai Rp857,3 triliun atau bertumbuh 6,8% year on year, dan simpanan berjangka yang tercatat Rp1.792,9 triliun atau tumbuh 19,0% year on year.

Hingga kuartal III/2014 kalangan perbankan memang terlihat getol memacu dana murah guna menekan cost of fund.

PT Bank Mandiri Tbk per September 2013 melaporkan total checking and savings accounts (CASA) mencapai Rp361,8 triliun dari total dana pihak ketiga (DPK) yang mencapai Rp590,9 triliun. Kondisi serupa juga terjadi di PT Bank Negara Indonesia Tbk, di mana CASA mereka per September 2014 mencapai 62% dari total DPK yang tercatat sebesar Rp308,33 triliun.

Namun upaya tersebut juga masih dibayangi kenaikan suku bunga dana khususnya deposito.

Menurut data yang dilansir Bank Indonesia pada September 2014, rata-rata suku bunga deposito berjangka waktu 6 dan 12 bulan masing-masing tercatat sebesar 9,36% dan 8,73%, meningkat dibandingkan Agustus 2014 yang tercatat 9,19% dan 8,61%. Kenaikan suku bunga dana itu pun diiringi peningkatan rata-rata suku bunga kredit yang mencapai 12,88%, lebih tinggi ketimbang Agustus 2014 yang tercatat 12,86%.

Pembatasan suku bunga oleh OJK memang baru efektif per 1 Oktober 2014. Namun suku bunga dana maksimum 9,75 bagi bank BUKU III dan 9,5% untuk bank BUKU IV rupanya masih tergolong tinggi. Sebagian bank-bank di luar kategori tersebut saat ini bahkan mengaku masih menyodorkan suku bunga hampir 11% bagi nasabah deposito mereka.

Tak pelak, cost of fund yang ditanggung bank-bank itu pun sulit turun signifikan. PT Bank Rakyat Indonesia Agroniaga Tbk misalnya, hingga September 2014 menanggung beban bunga Rp240,18 miliar, naik 81,16% ketimbang periode yang sama 2013 yang tercatat Rp132,58 miliar.

Hal yang sama juga terjadi di PT Bank Rakyat Indonesia Tbk yang notabene berstatus bank besar di kelompok BUKU IV. Hingga September 2014 BRI mencatat cost of fund sebesar 4,33%, lebih tinggi ketimbang periode yang sama 2013 yang hanya mencapai 3,58%. Pada semester pertama 2014, cost of fund yang ditanggung BRI juga lebih rendah sebesar 4,08%.

Direktur Utama BRI Sofyan Basir mengatakan pihaknya masih mampu memacu pertumbuhan DPK. Tahun depan bahkan BRI optimistis pertumbuhan penyaluran kredit bakal mencapai 17% hingga 20%. Menurutnya net interest margin (NIM) tahun depan bisa turun karena dinamika suku bunga. Namun dia menegaskan kondisi semacam itu dapat diantisipasi dengan menaikkan volume kredit.

Tim Riset Ekonomi Bank Permata memperkirakan pertumbuhan kredit pada 2015 bisa mencapai 21,18%. Begitu pula dengan pertumbuhan penghimpunan dana yang diprediksi mencapai 14,10%, lebih tinggi dibandingkan perkiraan tahun ini yang hanya 12,5%. Meski cukup optimistis namun sudah sewajarnya perbankan tetap waspada mengingat agenda ekonomi dan politik yang belakangan cukup dinamis.

 

sumber : finansial.bisnis.com