Otoritas yakin likuiditas tahun 2015 membaik

Otoritas yakin likuiditas tahun 2015 membaik

Pegawai Otoritas Jasa Keuangan bekerja di ruang Pusat Pelayanan Konsumen Keuangan Terintegrasi OJK, di komplek gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (21/3).JAKARTA. Di tengah musim seret likuiditas, otoritas perbankan menghembuskan kabar baik bagi industri perbankan. Menatap tahun depan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) memproyeksikan, dana pihak ketiga (DPK) mampu tumbuh 18%-19%.
Sedikit berbeda, Bank Indonesia (BI) meramal, DPK naik di kisaran 14%-16% sepanjang tahun depan. Kendati berbeda suara, ramalan OJK dan BI ibarat angin segar di tengah musim kemarau.

Pasalnya, prediksi otoritas terbilang optimistis. Sebagai gambaran, selama tiga tahun terakhir, pertumbuhan likuiditas paling mentok sebesar 15,80% yang terjadi pada tahun 2012 (lihat tabel). Kendati belum tutup tahun 2014, pergerakan DPK diramal tak banyak mengalami perubahan dari posisi September 2014. Apalagi, hingga akhir tahun nanti, pertumbuhan DPK diperkirakan sekitar 12% -14%.  

Muliaman D. Hadad, Ketua Dewan Komisioner OJK mengatakan, likuiditas perbankan tahun depan akan membaik seiring dengan politik Indonesia yang mulai stabil. Faktor lain, aturan penerapan batas atas atau capping bunga deposito efektif menghentikan perang bunga.

“Likuiditas akan membaik karena pertumbuhan kredit tidak sekencang dari tahun-tahun sebelumnya,” tambah Muliaman.
Sementara, Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI, mengatakan, salah satu faktor positif bagi pertumbuhan dana nasabah adalah kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. Asumsi BI, kenaikan harga BBM memicu penghematan bujet subsidi.

Bujet inilah yang berpotensi dialihkan untuk investasi atau pembiayaan. “Sehingga ada ekspansi rekening milik pemerintah,” ucap Halim, Kamis (13/11). Selain itu, lanjut Halim, kenaikan harga BBM yang menyehatkan neraca pemerintah bakal mendorong capital inflow. Ujungnya, ada tambahan likuiditas masuk ke sistem perbankan Tanah Air.

Nelson Tampubolon, Dewan Komisioner OJK Bidang Perbankan menyatakan, dana mahal masih mendominasi DPK. Hingga Agustus 2014, porsi deposito mencapai 47,21% dari total DPK.

Bankir pesimistis

Sayangnya, ramalan bankir lebih pesimistis. Jahja Setiaatmadja, Presiden Direktur Bank Central Asia (BCA) mengatakan, DPK hanya naik 12%-13% pada tahun 2015. “Target DPK kami konservatif, tumbuh 12%,” ujar Roy A. Arfandy, Plt. Direktur Utama Bank Permata.

Target ini lebih rendah dibandingkan realisasi pertumbuhan DPK Bank Permata sebesar 20% per September 2014. Lani Darmawan, Direktur Ritel Banking Bank Internasional Indonesia (BII), memasang target DPK tumbuh 15%.

 

sumber : keuangan.kontan.co.id