OJK Mengajak Masyarakat Untuk Cerdas Soal Keuangan

OJK Mengajak Masyarakat Untuk Cerdas Soal Keuangan

Jakarta – Ototritas Jasa Keuangan (OJK) mengajak masyarakat untuk cerdas dan melek soal keuangan. Hal itu dilakukan karena masyarakat Indonesia dinilai masih rendah dalam hal literasi keuangan.

“Kita punya alasan, literasi keuangan masyarakat kita dinilai masih rendah sehingga menjadi topik penting tidak hanya soal menghadapi krisis tapi juga menciptakan keuangan yang confidence,” kata Ketua Dewan Komisioner OJK Muliaman Hadad dalam Seminar Nasional Literasi Keuangan dengan tema ‘Menuju Masyarakat Cerdas Keuangan,’ di Hotel Mandarin, Jakarta, Selasa (21/5/2013).

Muliaman mengatakan, hal itu juga sekaligus sebagai respon penting dari kelompok G20 termasuk Indonesia.

“Terutama ketika kita semua harus merespon dampak krisis global 2008 lalu, mereka (G20) yang paling terpukul karena tidak siap dalam hal ekonomi,” kata dia.

Dia menyebutkan, dengan melek keuangan, maka industri keuangan Indonesia bisa maju secara pesat. Dengan itu, kelompok kelas menengah juga akan terus bertambah. Diprediksi di tahun 2020 mendatang, kelas menengah bisa mencapai 100 juta orang.

“Kelompok menengah akan terus meningkat, diprediksi tahun 2020 akan jadi 100 juta orang dan tentu saja memerlukan jasa keuangan yang baik. Kalau kita tidak bisa merespon secara baik kita sendiri akan berhadapan dengan masalah,” ujarnya.

Untuk mendukung itu, OJK menerapkan beberapa strategi yang juga dilakukan di negara lain, seperti lembaga keuangan harus bersifat inklusif artinya program edukasi keuangan harus menyentuh semua lapisan masyarakat. Selain itu, harus ada kesamaan persepsi sehingga ada sense of engagement, kemudian harus menumbuhkan tingkat pemahaman masyarakat terhadap aspek keuangan.

Untuk meningkatkan literasi keuangan, kata dia, perlu adanya pengetahuan, keterampilan, dan keyakinan.

“Dengan itu konsumen dan masyarakat luas mampu mengelola keuangan pribadi dengan lebih baik,” katanya.

Dalam acara ini, hadir beberapa lembaga keuangan seperti Bursa Efek Indonesia (BEI), BNI, BRI, Mandiri Sekuritas, Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI), dan lembaga keuangan lainnya.

 

sumber : finance.detik.com