OJK: 32 bank masuk dalam konglomerasi keuangan

OJK: 32 bank masuk dalam konglomerasi keuangan

Pegawai Otoritas Jasa Keuangan bekerja di ruang Pusat Pelayanan Konsumen Keuangan Terintegrasi OJK, di komplek gedung Bank Indonesia, Jakarta Pusat, Jumat (21/3).JAKARTA. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menyebutkan terdapat 32 bank yang masuk dalam kategori konglomerasi keuangan di Indonesia.

Dewan Komisioner OJK Bidang Perbankan sekaligus Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK, Nelson Tampubolon bilang, hasil assessment atau taksiran pengawas perbankan OJK pada akhir tahun lalu menyebutkan, entitas induk konglomerasi yang merupakan industri perbankan, berada dalam kondisi yang kuat. Ini karena, berdasarkan pemantauan dan pengawasan OJK, induk usaha perbankan Indonesia rata-rata memiliki modal yang kuat bahkan jauh di atas ketentuan perbankan.

Meski begitu, OJK belum dapat menyebutkan, rasio kecukupan modal alias capital adequacy ratio (CAR) konglomerasi keuangan secara terintegrasi. “OJK belum menghitung CAR secara terintegrasi. Tapi berdasarkan assessment, sepintas masih bagus. Karena induk usaha yang umumnya bank-bank besar Indonesia, rasio kecukupan modalnya jauh di atas persyaratan. Sementara anak-anak usahanya masih kecil, di mana share dari anak-anak usaha belum mencapai 10% terhadap keseluruhan bisnis konglomerasi,” kata Nelson di Gedung OJK, Komplek Bank Indonesia, Jakarta, Rabu (21/1).

Catatan saja, adapun konglomerasi keuangan yang sudah teridentifikasi OJK, diantaranya adalah Mandiri Group, BNI Group, BRI Group, Mega Group, Bukopin Group, Bank Internasional Indonesia (BII), Development Bank of Singapore (DBS), Citibank Group, Panin Group, Permata Group, BCA Group, Sinar Mas Group, CIMB Niaga, HSBC Group, OCBC Group, Commonwelth Group, Resona Group, Sumitomo Group, BTMU Group, Mizuho Group, RBS Group, Bank of America Group, JP Morgan Group, Ganesha Group Victoria Group, Bank Pundi Group, MNC Group – Bank Bumiputera dan BPD Kalimantan Selatan Group.

Sedangkan, BPD Jawa Barat Banten (BJB), masih dalam proses identifikasi konglomerasi keuangan oleh OJK. Hal ini lantaran OJK masih mengidentifikasi seberapa besar kekuatan anak usaha dari BJB. Identifikasi tersebut masih akan terus dilakukan terutama untuk konglomerasi keuangan yang berada pada satu sektor seperti konglomerasi keuangan di perbankan, IKNB, ataupun pasar modal.

 

sumber : keuangan.kontan.co.id