Inilah Pencapaian2 Perekonomian Pemerintahan Jokowi di 2015

Inilah Pencapaian2 Perekonomian Pemerintahan Jokowi di 2015

http://ekbis.sindonews.comJakarta -Kerja keras pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di tahun perdana masih belum membuahkan hasil maksimal. Berbagai asumsi makro ekonomi yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015 cenderung meleset.

Dalam laporan realisasi pelaksanaan APBN P 2015 oleh Kementerian Keuangan (Kemenkeu) yang dikutip detikFinance, Senin (4/1/2016), tercatat pertumbuhan ekonomi‎ 2015 diperkirakan hanya mencapai 4,73% atau lebih rendah dari asumsi awal, yakni 5,7%.

Angka tersebut masih dalam bentuk perkiraan dengan landasan realisasi pada kuartal I-III 2015 dan proyeksi kuartal IV. Ini masih butuh perhitungan dan‎ secara resmi akan disampaikan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) bulan depan.

Raihan 4,73% tidak terlepas dari pengaruh perekonomian global yang masih dalam fase perlambatan. Indonesia dan negara yang menganut ekonomi terbuka lainnya pasti terkena dampak. Hingga kemudian pemerintah mengambil langkah dengan meluncurkan paket kebijakan ekonomi.

Seperti peningkatan batas penghasilan tidak kena pajak dan penguatan jaring pengaman sosial. Hasilnya terlihat pada komponen konsumsi rumah tangga yang menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi.

Inflasi‎ diperkirakan 3,1%, lebih baik dari asumsi awal 5%. Satu sisi pemerintah berhasil menjaga pasokan barang kebutuhan pokok, khususnya pangan. Namun di sisi lain, kebutuhan masyarakat akan barang juga menurun seiring perlambatan ekonomi.

Suku Bunga Surat Perbendaharaan Negara (SPN) 3 bulan 2015 mencapai 5,97% atau sedikit di bawah asumsi dalam APBN P sebesar 6,2%. Faktor penyebabnya adalah masih tingginya permintaan surat berharga negara, meskipun likuiditas global relatif ketat.

Nilai tukar rupiah, menjadi sorotan yang cukup tajam selama 2015. Meski sempat melemah sampai ke level Rp 14.600/US$, ‎namun secara rata-rata selama 2015 dolar AS mencapai Rp 13.392. Sementara asumsi awalnya adalah Rp 12.500. 

Penyebabnya dari sisi internal adalah tingginya permintaan valas untuk pembayaran utang dan deviden dan dari eksternal adalah kenaikan suku bunga acuan AS dan depresiasi yuan.

Indikator makro ekonomi lainnya adalah harga minyak mentah Indonesia 2015 yang mencapai US$ 50 per barel atau lebih rendah dari asumsi US$ 60 per barel. Ini dipengaruhi oleh lemahnya permintaan global serta masih tingginya pasokan minyak dunia.

Rata-rata lifting minyak mentah dari periode Desember 2014-November 2015 adalah 779.000 barel per hari‎ atau di bawah target 825.000 barel per hari. Sedangkan listing gas pada periode yang sama tercatat 1,19 juta barel setara minyak per hari atau di bawah target 1,2 juta barel setara minyak per hari.

“Perekonomian Indonesia di tahun 2015 bergerak dalam ketidakpastian global yg tinggi, harga komoditas yg rendah, serta kondisi domestik seperti ketersedian infrastruktur, reformasi birokrasi, dan lain lain yang juga menantang,” kata Plt Kepala Badan Kebijakan Fiskal Suahasil Nazara‎ dalam keterangannya.

 

sumber : finance.detik.com