Ini Penyebab Tingginya Inflasi Januari 2014 Versi BI

Ini Penyebab Tingginya Inflasi Januari 2014 Versi BI

bi3Jakarta -Bank Indonesia (BI) melaporkan tiga penyebab dari melejitnya inflasi pada bulan Januari 2014 yang mencapai 1,07%. Porsi terbesarnya adalah akibat dari bencana alam dan banjir yang melanda beberapa kota di Indonesia sejak awal tahun yang membuat harga pangan naik drastis.

Kepala Group Assesment Ekonomi BI Doddy Zulverdi menuturkan setiap tahunnya memang cenderung inflasi Januari tinggi. Ini dikarenakan pola penurunan produksi dan masa tanam dari bahan pangan.

Akan tetapi, ini menjadi buruk karena kondisi bencana seperti letusan gunung dan banjir. Karena menyebabkan distribusi dan pasokan pangan terganggu. Serta kemudian harga pangan tersebut menjadi naik.

“Memang ada masalah pada beberapa komoditas pangan. Setiap tahunnya karena masih dalam waktu produksi. Panen kan biasanya Maret atau April. Tapi ini diperburuk dengan bencana alam, banjir. Terutama Jawa dan Sumatera,” kata Doddy saat berbincang dengan media di kantor pusat BI, Jakarta, Selasa (4/2/2014).

Diharapkan agar banjir ke depan sudah tidak terjadi lagi dan bibit tanaman pangan segera didistribusikan. Agar panen tidak bergeser terlalu jauh. BI masih optimis inflasi dapat terkendali hingga akhir tahun.

“BI menilai masih sesuai dengan prediksi, tapi perlu di wasapdai. Terutama dampak dari bencana. Kita berharap ini setelah selesai Imlek itu beres. Jadi faktor risiko itu yang dihitung, Apakah bencana itu masih akan berlanjut atau tidak,” terangnya.

Kedua adalah tekanan inflasi akibat kenaikan harga elpiji 12 kg oleh PT Pertamina persero per 1 Januari 2014. Meskipun kenaikan tersebut direvisi menjadi lebih rendah, namun konsumen sudah merasakan elpiji dengan harga yang sangat tinggi.

“Ini masuk dalam tekanan inflasi administered price yang total 1%. Penyebabnya yaitu kenaikan harga elpiji 12 kg,” sebutnya.

Sementara yang ketiga adalah pelemahan nilai tukar rupiah (NTR) yang sudah terjadi sejak pertengahan tahun 2013. Akibat pelemahan rupiah memang membuat beberapa harga barang melejit, terutama impor.

“Walaupun tidak semuanya harga naik pada barang yang diimpor. Tapi ada barang yang cukup sensitif, karena ada efek jual pada rupiah makanya harganya juga ikutan naik,” paparnya.

sumber : finance.detik.com