Ekonomi RI Tumbuh 5,02%, Jokowi: Negara Lain Anjlok

Ekonomi RI Tumbuh 5,02%, Jokowi: Negara Lain Anjlok

Jakarta – Data-data ekonomi Indonesia pada 2016 memang belum memuaskan. Akan tetapi bila melihat kondisi ekonomi global dan beberapa negara berkembang lainnya, posisi Indonesia sangat jauh lebih baik.

Hal ini diungkapkan Presiden Joko Widodo (Jokowi) saat Pembukaan Rapat Kerja Kementerian Perdagangan 2017 di Istana Negara, Jakarta, Selasa (21/2/2017)

Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2016 mencapai 5,02% dan inflasi 3,02%. Realisasinya masih lebih baik dibandingkan tahun sebelumnya. Begitu juga pada pengendalian fiskal, dengan realisasi defisit 2,5% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).

“Jangan sampai ada yang menyampaikan ke mana-mana, apalagi dalam forum-forum baik di daerah maupun forum nasional maupun internasional, ada rasa pesimistis. Karena memang, kalau kita lihat negara-negara lain, pertumbuhan ekonominya jatuh. Anjlok, turun,” jelasnya.

Sebut saja Brasil dan Rusia yang masih berjuang untuk keluar dari resesi. Afrika Selatan masih dalam perlambatan dengan pertumbuhan ekonomi pada kisaran 1%. Turki juga tidak lebih baik dari negara lain karena ada ketidakstabilan politik dan keamanan.

Hal yang sama terjadi pada negara-negara maju, masih harus berjuang lebih keras pada tahun ini Seperti Amerika Serikat (AS) diproyeksi ekonominya hanya mampu tumbuh 2,2%, Uni Eropa sebesar 1,5% dan Jepang 0,9%.

“Kalau kita melihat angka-angka yang tadi saya sampaikan, sekali lagi, tidak ada rasa pesimistis bagi saya. Dan, saya selalu menyampaikan kepada menteri-menteri, kalau bekerja itu harus optimistis. Tapi optimistis yang realistis. Optimistis yang berpijak pada kondisi yang objektif, tidak awur-awuran. Ada kalkulasinya. Optimistis tapi harus ada kalkulasinya,” papar Jokowi.

Optimisme tersebut harus diikuti dengan terobosan dalam program kerja. Khususnya dalam tubuh pemerintah sendiri, agar mampu memberikan pelayanan terbaik untuk masyarakat.

“Jangan bekerja dengan cara-cara lama yang monoton. Cari cara-cara yang tidak linier. Di mana-mana, harus cari terobosan-terobosan itu. Di kantor-kantor, di Ditjen semuanya harus bertransformasi menuju dunia digital,” ujarnya.

“Tidak ada cara yang lain. Karena kita ingin melayani siapa pun dengan cepat. Rakyat dilayani dengan cepat. Masyarakat dilayani dengan cepat. Konsumen layani dengan cepat. Industri dilayani dengan cepat, pengusaha dan UMKM dilayani dengan cepat. Semuanya harus mengarah ke sana. Kalau negara ini tidak melakukan itu, kalah cepat kita ditinggal. Kalah pelayanan kita ditinggal,” papar Jokowi.

Menurut Jokowi, perubahan yang terjadi di dunia sangat cepat. Salah satu sumber perubahannya adalah karena teknologi. Masing-masing negara sekarang berinovasi untuk menciptakan layanan paling baik.

“Peta persaingan, peta kompetisi dunia berubah sangat radikal, berubah sangat cepat. Kalau kita seperti yang kemarin-kemarin sudah puas, apalagi yang senang dengan zona nyaman. Saya pastikan kita ditinggal,” tukasnya.

Pemerintah bertanggung jawab terhadap 250 juta penduduk Indonesia. Seluruh program dan kebijakan yang disusun harus mampu dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia. “Kita semua bertanggung jawab kepada 250 juta penduduk Indonesia,” tegas Jokowi.

sumber : finance.detik.com