Diprediksi Jadi Negara Maju, Bagaimana Kondisi Perekonomian RI?

Diprediksi Jadi Negara Maju, Bagaimana Kondisi Perekonomian RI?

ekonomi_riBali -Perekonomian global saat ini masih penuh ketidakpastian. Amerika Serikat (AS) tengah memulai masa pertumbuhan ekonominya kembali, dan China terus berjuang agar tidak jatuh terlalu dalam.

Sementara negara berkembang seperti Brazil, Rusia, India, Afrika Selatan dan termasuk Indonesia berada dalam posisi bertahan. Indonesia selalu didengungkan sebagai negara maju dalam beberapa tahun mendatang, bahkan berdiri sejajar dengan Korea Selatan.

Tapi sayangnya hal itu hanya sekedar dengungan. Bagaimana ekonomi Indonesia hari ini? Sejak 2003, beberapa lembaga pemeringkat Interasional mendaulat Indonesia sebagai negara dengan kelas pendapatan menengah, meski sebenarnya di batas bawah.

Alasan utamanya adalah posisi demografi atau dapat diartikan porsi usia muda yang lebih besar dibandingkan dengan usia tua. Ini terbukti, dengan ekonomi yang tumbuh tinggi dalam 10 tahun terakhir.

Dari 2003 hingga 2014 rata-rata pertumbuhan ekonomi mencapai 5,6%. Komponen pendukung utama adalah konsumsi rumah tangga, investasi dan ekspor.

“Rata-rata pertumbuhan ekonomi dari 2003 sampai dengan 2014 mencapai 5,6%,” ungkap Wakil Menteri Keuangan Mardiasmo dalam acara Forum Internasional Ekonomi dan Kebijakan Publik di Hotel Nusa Dua, Bali, Kamis (10/12/2015)

Akan tetapi, saat menikmati pertumbuhan yang tinggi ada sisi yang terlupakan, tepatnya tidak dibenahi. Konsumsi rumah tangga yang tinggi namun tidak diimbangi dengan produktifitas sumber daya manusia, investasi besar namun tidak merata di seluruh wilayah dan ekspor hanya bergantung pada barang mentah, mengikuti harga komoditas yang melambung tinggi.

Hasilnya tren pertumbuhan kemudian bergerak melambat. Mardiasmo menyebutkan angka pertumbuhan di kisaran 5%, dengan beban untuk memperbaiki defisit transaksi berjalan, jatuhnya sektor pertambangan dan perkebunan, dan risiko lonjakan harga pangan serta ketergantungan pada arus modal yang mudah menguap. Ditambah lagi dengan situasi ekonomi global.

“Pertumbuhan dimoderasi dan sekarang mendekati 5%. Investasi tetap tinggi, sedikit di atas 30% dari PDB, tapi belum menyebabkan perluasan signifikan dari basis ekonomi,” jelasnya.

Meski demikian, Mardiasmo menyatakan segala persoalan tersebut masih bisa diatasi. Defisit anggaran masih bisa dikendalikan di bawah 3% terhadap PDB, inflasi terjaga pada level 4%, dan defisit transaksi berjalan bisa diturunkan ke level 2% dari sebelumnya yang menembus 4% terhadap PDB, walupun lebih banyak dipengaruhi oleh penrunan impor.

Optimisme lain muncul saat lembaga pemeringkat Standard & Poor’s meningkatkan proyeksi peringkat utang Indonesia dari stabil menjadi positif. Faktor utamanya adalah pengalihan belanja subsidi energi ke yang lebih produktif, yaitu infrastruktur.

“Hal ini berdasarkan reformasi struktural pada kebijakan fiskal, dan manajemen sektor keuangan,” tegas Mardiasmo.

 

sumber : finance.detik.com