BI Rate Tetap 5,75%

BI Rate Tetap 5,75%

No. 15/ 18 /PSHM/Humas
Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia pada 14 Mei 2013 memutuskan untuk mempertahankan BI Rate pada level 5,75%. Tingkat BI Rate tersebut dinilai masih konsisten dengan sasaran inflasi tahun 2013 dan 2014, sebesar 4,5% ± 1%. Meskipun Indeks Harga Konsumen (IHK) bulan April 2013 mengalami deflasi, Bank Indonesia tetap mewaspadai tekanan inflasi yang berasal dari kenaikan ekspektasi inflasi terkait dengan rencana kebijakan BBM yang akan ditempuh Pemerintah. Sehubungan dengan itu, Bank Indonesia akan melanjutkan penguatan operasi moneter melalui penyerapan likuiditas yang lebih besar ke tenor yang lebih jangka panjang. Penguatan operasi moneter tersebut juga dimaksudkan untuk mendukung kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sesuai dengan tingkat fundamentalnya. Kebijakan ini didukung dengan langkah-langkah lanjutan untuk pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing, antara lain dengan mempublikasikan kurs referensi spot Rupiah/dollar Amerika Serikat (AS) di pasar domestik dalam waktu dekat. Ke depan, Bank Indonesia akan mewaspadai sejumlah risiko terhadap tekanan inflasi maupun nilai tukar, dan akan menyesuaikan respon kebijakan moneter bila diperlukan. Selain itu, koordinasi bersama Pemerintah terus diperkuat dengan fokus pada upaya meminimalkan potensi tekanan inflasi dan mengelola defisit transaksi berjalan.

Perekonomian Indonesia pada triwulan I-2013 tumbuh 6,02%, melambat dibanding triwulan sebelumnya yang tumbuh 6,11%. Tingkat pertumbuhan ini lebih rendah daripada perkiraan Bank Indonesia sebesar 6,2%. Perlambatan Produk Domestik Bruto (PDB) bersumber dari permintaan domestik yang menurun, ditengah pemulihan ekspor yang masih terbatas. Konsumsi rumah tangga tumbuh melambat sejalan dengan menurunnya daya beli akibat inflasi bahan makanan dan meningkatnya ekspektasi inflasi terkait dengan ketidakpastian kebijakan subsidi BBM. Konsumsi pemerintah tumbuh rendah di awal tahun karena masih terbatasnya serapan belanja, khususnya belanja barang. Di sisi lain, investasi, khususnya nonbangunan, cenderung melambat dipengaruhi oleh prospek permintaan domestik dan internasional yang terbatas. Sejalan dengan melambatnya investasi dan konsumsi, impor mengalami kontraksi. Dengan perkembangan tersebut, pertumbuhan ekonomi pada triwulan II-2013 diprakirakan juga akan lebih rendah dari prakiraan sebelumnya dan berada di tingkat yang tidak jauh berbeda dari tingkat pertumbuhan triwulan I-2013. Untuk keseluruhan tahun 2013, perekonomian Indonesia diprakirakan akan mengarah ke batas bawah kisaran proyeksi 6,2%-6,6%.

Di sisi eksternal, keseimbangan eksternal dalam perekonomian mengalami perbaikan sebagaimana yang diharapkan. Defisit transaksi berjalan pada triwulan I-2013 tercatat sebesar 2,4% terhadap PDB, turun dari 3,5% terhadap PDB pada triwulan sebelumnya. Perbaikan defisit transaksi berjalan disebabkan oleh membaiknya kinerja neraca perdagangan yang didorong oleh penurunan impor yang cukup tajam, khususnya barang-barang konsumsi, sementara beberapa komoditas ekspor nonmigas tetap tumbuh positif. Sementara itu, transaksi modal dan finansial (TMF) pada triwulan I-2013 mencatat defisit seiring dengan menurunnya arus modal masuk, karena memburuknya kondisi perekonomian global dan meningkatnya tekanan inflasi di dalam negeri. Pada awal triwulan II-2013 arus modal masuk kembali meningkat cukup tinggi, antara lain terkait dengan penerbitan global bond Pemerintah RI. Cadangan devisa pada akhir April 2013 meningkat dibandingkan dengan bulan sebelumnya menjadi sebesar 107,3 miliar dolar AS atau setara dengan 5,8 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri Pemerintah, di atas standar kecukupan internasional.

Nilai tukar Rupiah mengalami depresiasi secara moderat pada April 2013, dengan intensitas tekanan yang menurun sejalan dengan kembali meningkatnya aliran modal masuk. Nilai tukar rupiah secara point to point hanya melemah sebesar 0,05% (mtm) mencapai Rp9.723 per dolar AS dengan volatilitas yang masih terjaga. Permintaan valas yang mengalami peningkatan dapat diimbangi oleh meningkatnya pasokan valas nonresiden yang didukung oleh persepsi positif terhadap ekonomi Indonesia paska penerbitan global bond Pemerintah RI. Perubahan outlook rating S&P dari positif ke stabil berdampak sesaat pada nilai tukar Rupiah. Ke depan, Bank Indonesia akan terus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah sesuai dengan kondisi fundamental perekonomian serta melanjutkan langkah-langkah pendalaman pasar valuta asing.

IHK pada bulan April 2013 mengalami deflasi seiring dengan membaiknya pasokan dan upaya Pemerintah dalam memperbaiki kebijakan terkait impor hortikultura. IHK April 2013 tercatat -0,10% (mtm) atau 5,57% (yoy) didorong oleh deflasi volatile foods seiring dengan panen yang terjadi di berbagai daerah dan perbaikan kebijakan impor, khususnya bawang putih. Di sisi lain, inflasi inti menunjukkan perlambatan (4,12%, yoy) searah dengan menurunnya harga komoditas global dan terjaganya permintaan secara umum, meskipun ekspektasi inflasi terindikasi mulai meningkat terkait dengan ketidakpastian kebijakan subsidi BBM. Ke depan, langkah-langkah koordinasi dengan Pemerintah perlu terus diperkuat, khususnya dalam meningkatkan produksi domestik dan memperbaiki upaya-upaya terkait impor hortikultura.

Stabilitas sistem keuangan dan fungsi intermediasi perbankan tetap terjaga dengan baik. Kinerja industri perbankan yang solid tercermin pada tingginya rasio kecukupan modal (CAR/Capital Adequacy Ratio) sebesar 18,9% yang berada jauh di atas ketentuan minimum 8% dan rendahnya rasio kredit bermasalah (NPL/Non Performing Loan) gross yaitu sebesar 1,97% pada bulan Maret 2013. Sementara itu, pertumbuhan kredit hingga akhir Maret 2013 melambat menjadi 22,2% (yoy) sejalan dengan perlambatan ekonomi domestik. Kredit modal kerja dan kredit investasi masih tumbuh cukup tinggi sebesar 23,7% (yoy) dan 23,2% (yoy), sementara kredit konsumsi tumbuh 18,9% (yoy). Bank Indonesia memandang tingkat pertumbuhan kredit perbankan masih cukup konsisten dengan tingkat pertumbuhan ekonomi nasional. Ke depan, Bank Indonesia meyakini stabilitas sistem keuangan akan tetap terjaga dengan moderasi fungsi intermediasi perbankan seiring dengan perlambatan kinerja perekonomian nasional.

Laporan lengkap mengenai pembahasan Rapat Dewan Gubernur (RDG) Mei 2013 yang memuat perkembangan ekonomi makro dan kebijakan moneter dapat dilihat dalam Tinjauan Kebijakan Moneter (TKM) di Website Bank Indonesia.

Jakarta, 14 Mei 2013
Departemen Perencanaan Strategis
dan Hubungan Masyarakat

Difi A. Johansyah
Direktur Eksekutif

sumber : bi.go.id