BI: Kredit melambat, belum berdampak pada laba

BI: Kredit melambat, belum berdampak pada laba

JAKARTA. Ekspansi kredit perbankan di dalam negeri dinilai mulai mengalami perlambatan. Memang secara year on year (yoy) kredit perbankan umum masih naik sebesar 22,2% menjadi Rp 3.067,40 triliun, tapi jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, kredit tersebut terbilang lebih rendah.

Meski begitu, laba yang diperoleh perbankan nasional masih cukup tinggi yakni mencapai Rp 70,73 triliun, naik 18,44% dibandingkan tahun lalu.

Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Difi A. Johansyah menuturkan melambatnya kredit perbankan nasional ini tidak serta merta mengakibatkan perlambatan laba industri perbankan. Menurut Difi, terdapat perbedaan kerangka waktu atau time frame dalam menghitung perlambatan kredit dan juga laba yang diraih industri perbankan.

“Laba perbankan secara akuntansi dihitung mulai awal tahun, artinya bisa jadi kontribusi laba bank itu dihasilkan oleh keputusan atau kredit yang ada sebelum ini. Jadi, tidak secara otomatis jika terjadi perlambatan kredit maka laba perbankan juga melambat. Time frame-nya bisa berbeda,” ujar Difi Rabu (16/10).

Sebelumnya BI, melakukan revisi aturan tentang Giro Wajib Minimum (GWM) Sekunder dan GWM Loan to Deposit Ratio (LDR) yang ditujukan untuk menekan pertumbuhan kredit yang tinggi. Hanya saja kata Difi, dampak dari aturan tersebut butuh waktu.

Hal itu disebabkan pendapatan dan biaya industri perbankan dihitung secara kumulatif sejak awal tahun. Karena itu, seandainya ada dampak perlambatan kredit terhadap perlambatan laba industri perbankan, maka hal itu tidak terjadi dengan cepat. “Seandainya ada dampak ke laba, butuh waktu,” ujar Difi.

Seperti diketahui bahwa BI merilis dua aturan tambahan mengenai GWM Sekunder dan GWM LDR, dalam upaya menyesuaikan pertumbuhan kredit agar sejalan dengan kondisi fundamental. Kewajiban GWM sekunder yang pada awalnya sebesar 2,5% disesuaikan menjadi 4% secara bertahap sampai dengan Desember 2013. BI juga melakukan penyesuaian atas kewajiban GWM LDR, dengan menurunkan batas atas GWM LDR dari 100% menjadi 92%.

 

sumber : keuangan.kontan.co.id